KUPANG — Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melepas ribuan mahasiswa tersebut di Aula Utama Kantor Bupati Kupang, Kamis (9/7/2026). Ia menegaskan bahwa kampus tidak boleh lagi menjadi menara gading yang terisolasi dari persoalan riil di lapangan.
“Kampus selama ini sering dipandang sebagai menara gading. Hari ini paradigma itu berubah. Kampus harus hadir di tengah masyarakat dan memberikan dampak nyata bagi kehidupan masyarakat,” ujar Melki.
Bukan Sekadar Sosialisasi Gizi
Penanganan stunting dalam program ini tidak hanya menyasar aspek kesehatan. Kepala LLDIKTI Wilayah XV Adrianus Amheka menjelaskan, mahasiswa dari lintas disiplin ilmu akan meramu solusi yang lebih komprehensif.
Mereka akan mengaitkan masalah stunting dengan penyediaan air bersih, ketahanan pangan, produktivitas pertanian, pemberdayaan ekonomi keluarga, hingga penguatan literasi masyarakat. Setiap tim terdiri dari mahasiswa berbagai jurusan agar pendekatan yang dihasilkan tidak parsial.
Digitalisasi Posyandu dan 1.000 HPK
Di lapangan, mahasiswa akan mendukung pelayanan Posyandu dan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Mereka juga akan melakukan digitalisasi pencatatan pertumbuhan balita dan mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Gubernur Melki menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pembangunan desa, mulai dari pelayanan publik, kesehatan, pendidikan, hingga pengelolaan data pembangunan. “Kehadiran adik-adik mahasiswa di desa-desa nantinya kita harapkan agar seluruh masalah di NTT ini bisa didekati secara lebih saintifik ilmiah,” katanya.
100 Dosen Pembimbing dan Target Dampak Nyata
Seluruh mahasiswa didampingi oleh 100 dosen pembimbing lapangan. Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Fauzan berpesan agar para mahasiswa menjadi pemecah masalah, bukan justru menambah persoalan di desa.
“Jadilah