MAUMERE — Sebanyak 836 peserta dari 9 keuskupan tidak menginap di hotel atau penginapan komersial selama mengikuti Nusra Youth Day (NYD) III di Keuskupan Maumere. Mereka justru tinggal di rumah-rumah umat Paroki St. Mikhael Nita yang dengan sukarela membuka pintu bagi para tamu.
Fenomena live-in ini, menurut penulis Bernardus Badj*, mengingatkan pada eklesiologi Gereja perdana dalam Kisah Para Rasul 2:46, di mana iman dirayakan dalam kehangatan rumah tangga, bukan di gedung megah. Model ini menjadi praktik harian yang mengutamakan relasi di atas fasilitas.
Memori Berbahaya dari Rumah Petani
Teolog Jerman Johann Baptist Metz menyebut pengalaman semacam ini sebagai memori berbahaya—sebuah pengingat bahwa iman Kristen pada mulanya adalah iman orang-orang kecil yang berbagi apa yang mereka miliki. Ketika seorang peserta dari Keuskupan Atambua menginap di rumah sederhana seorang petani di Nita, terjadi perjumpaan yang mempertanyakan gaya hidup konsumtif dan menantang kembali pada esensi iman yang sederhana dan bersaudara.
Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, menyebut kepercayaan menjadi tuan rumah NYD III ini sebagai buah dari kematangan iman umat dan pengakuan atas kapasitas keuskupan dalam menyelenggarakan kegiatan berskala besar. Kematangan yang dimaksud bukan sekadar kemampuan teknis-logistik, melainkan kedewasaan dalam memaknai iman sebagai daya yang mempersatukan, bukan memecah-belah.
Kirab Salib dan Inkulturasi yang Hidup
Perhelatan ini juga ditempatkan dalam bingkai peringatan satu abad pendidikan calon imam di Flores, yang dimulai dari Seminari Menengah Lela pada 1926. Jejak sejarah itu kentara dalam prosesi Kirab Salib Suci NYD yang melibatkan perarakan panjang dari paroki ke paroki, melewati batas-batas administrasi, dan disambut dengan ritual adat seperti penaburan bunga, tarian penyerahan, dan sapaan "Huler Wair".
Prosesi ini, menurut sosiolog Émile Durkheim dalam The Elementary Forms of Religious Life (1915), bukan sekadar ekspresi iman pribadi, melainkan momen sakral di mana masyarakat merayakan dan memperkuat solidaritasnya. Di sini, iman Katolik dan budaya lokal bukanlah dua entitas yang bertentangan, melainkan berjalan bergandengan tangan.
Modal Sosial yang Masih Kuat di Flores
Fenomena ini menunjukkan masih kuatnya modal sosial di masyarakat Flores, di mana gotong royong dan solidaritas tetap menjadi perekat di tengah gempuran modernitas. Solidaritas yang terbangun bukan karena kesamaan profesi, melainkan karena kesadaran akan identitas bersama sebagai saudara seiman.
Dengan tema 'Berjalan Bersama Membangun Bangsa dan Gereja', NYD III menjelma menjadi refleksi teologis-sosiologis yang mendalam tentang bagaimana iman dihayati, dirayakan, dan diterjemahkan dalam kebersamaan. Keuskupan Maumere, yang relatif masih berusia 21 tahun, membuktikan bahwa kapasitas menyelenggarakan kegiatan berskala besar lahir dari modal sosial yang dibangun melalui jejak panjang pelayanan pastoral yang konsisten.