NUSA TENGGARA TIMUR — Diomande membuka luka terdalamnya lewat surat terbuka yang dimuat The Players' Tribune. Ia bercerita tentang perjuangan hidupnya yang pahit, mulai dari puluhan kali trial gagal di klub-klub Eropa hingga tragedi kematian sang adik yang menjadi penyemangat hidupnya.
"Sekarang, aku tidak merasakan apa pun. Seperti aku bukan manusia lagi. Sejak kau meninggal, aku hampa," tulis Diomande dalam suratnya, merujuk pada Roxane yang wafat akibat dugaan minuman yang dicampur obat terlarang.
Dari Klub Bawah Liga Spanyol ke Rebutan Liverpool dan PSG
Perjalanan karier Diomande tak semulus yang dibayangkan. Ia sempat menjalani trial di Bournemouth, Chelsea, Rangers, Crystal Palace, hingga klub MLS, namun semuanya berujung penolakan tanpa alasan jelas. Bahkan Eberechi Eze dan Michael Olise sempat memujinya saat latihan di Crystal Palace, tetapi klub tetap tak merekrutnya.
"Mereka terus membawaku berkeliling Eropa, dan semua orang berkata tidak. Visaku habis. Mimpiku hancur. Mereka mengirimku kembali ke Afrika, dan kami menangis bersama," kenangnya.
Kebuntuan itu pecah saat Diomande bergabung dengan Leganes pada paruh musim 2024/2025. Debutnya di Copa del Rey melawan Real Madrid pada Februari 2025 langsung menarik perhatian RB Leipzig yang kemudian memboyongnya dengan €20 juta pada musim panas yang sama.
Musim Debut yang Mencatatkan Rekor Bundesliga
Di Bundesliga, Diomande langsung bersinar. Dari 33 penampilan, ia mencatatkan 12 gol dan 8 assist. Ia juga menjadi pemain termuda keempat yang mencapai angka dua digit gol dalam satu musim Bundesliga. Performa itu membuatnya masuk skuad Pantai Gading di Piala Dunia dan langsung jadi rebutan Liverpool serta PSG.
Meski nilai pasarnya kini melambung hingga £100 juta, Diomande tetap berfokus pada misi pribadi: membuktikan bahwa Roxane benar. "Kau selalu bilang aku bisa lebih baik dari Cristiano. Akan kubuktikan kau benar, atau aku mati mencoba," tulisnya.
Janji di Piala Dunia: Setiap Gol untuk Sang Adik
Diomande sudah tampil di laga pembuka Grup E melawan Ekuador. Ia bertekad menjadikan turnamen ini panggung untuk menghormati Roxane. "Setiap kali aku mencetak gol, aku akan memastikan semua orang tahu namamu. Aku akan memastikan mereka tidak melupakanmu," ucapnya.
Kisah Diomande menjadi pengingat bahwa di balik gemerlap nilai transfer dan sorotan panggung dunia, selalu ada cerita manusiawi yang tak terlihat. Ia kini bermain bukan hanya untuk karier, tetapi untuk janji yang tak pernah bisa ia ucapkan langsung kepada Roxane.