FLORES TIMUR — Sebanyak 250 tukik dilepasliarkan ke perairan Solor Selatan dalam sebuah kegiatan yang digagas Kelompok Kerja Madrasah Tsanawiyah (KKM MTs) Flores Timur. Kepala Kantor Kemenag Flores Timur Yosef Aloysius Babaputra menyebut aksi ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata tanggung jawab moral dan spiritual terhadap alam.
"Menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual kita bersama," kata Yosef dalam keterangan yang diterima di Kupang.
Madrasah Jadi Garda Depan Kesadaran Ekologis
Yosef menegaskan lembaga pendidikan keagamaan tidak hanya bertugas memperkuat intelektual dan spiritual peserta didik. Madrasah, menurutnya, juga harus membangun kesadaran ekologis di tengah masyarakat pesisir. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antara Kemenag, madrasah, dan komunitas konservasi.
"Melalui kegiatan ini, kepedulian masyarakat terhadap pelestarian satwa laut diharapkan semakin meningkat," ujarnya.
Penangkaran Penyu Jalur Gasa: Konsistensi di Tengah Keterbatasan
Pantai Jalur Gasa di Desa Sulewaseng selama ini dikenal sebagai salah satu titik penangkaran penyu di Flores Timur. Pengelola penangkaran, Mus Melur, menyambut baik dukungan dari Kemenag dan KKM MTs. Ia menyebut kehadiran institusi keagamaan menjadi penyemangat bagi warga yang selama ini berjuang melestarikan tukik secara mandiri.
"Kehadiran Kemenag Kabupaten Flores Timur menjadi penghargaan bagi kami yang terus berupaya melestarikan tukik. Dukungan ini menjadi penyemangat untuk terus menjaga kelestarian penyu dan lingkungan pesisir," kata Mus.
Ekoteologi: Iman yang Berwajah Lingkungan
Program Penguatan Ekoteologi yang menjadi prioritas Kemenag pusat mendorong setiap institusi keagamaan untuk menerjemahkan ajaran spiritual ke dalam aksi lingkungan yang konkret. Pelepasan tukik di Solor Selatan menjadi salah satu implementasi di tingkat kabupaten. Kepala Seksi Bimas Islam Kemenag Flores Timur Hafid Syarif serta para kepala MTs se-Kabupaten Flores Timur turut hadir dalam kegiatan tersebut.