KUPANG — Harga Bitcoin tercatat di kisaran US$62.754 per koin, atau turun tipis 0,21 persen dalam perdagangan terbaru. Meski turun tipis, level ini dinilai penting karena mendekati biaya produksi rata-rata penambang, membuat operasi mereka kembali mendekati titik impas (break-even). Pergerakan ini menjadi perhatian pelaku pasar kripto di Indonesia, termasuk di NTT, yang mulai melirik aset digital sebagai alternatif investasi.
Zcash dan Velvet Catat Kenaikan Dua Digit
Di sisi lain, pasar altcoin menunjukkan warna berbeda. Ethereum tercatat menguat, sementara Zcash melonjak signifikan sebesar 12,68 persen. Velvet, salah satu aset kripto dengan kapitalisasi lebih kecil, juga mencatatkan kenaikan tajam yang menarik minat trader ritel. Lonjakan ini kerap dimanfaatkan investor jangka pendek untuk mencari keuntungan di tengah volatilitas pasar.
Apa Arti Level Impas bagi Penambang?
Level harga Bitcoin di kisaran US$63.500 dianggap sebagai batas efisiensi bagi penambang skala besar. Ketika harga berada di atas level tersebut, margin keuntungan penambang membesar. Sebaliknya, jika harga terus tertekan di bawah biaya produksi, penambang skala kecil bisa terpaksa menghentikan operasi. Data dari platform analitik menunjukkan bahwa biaya produksi rata-rata Bitcoin saat ini berada di sekitar angka tersebut, dipengaruhi oleh harga listrik dan efisiensi perangkat keras.
Pasar Kripto Global: Campur Aduk Sejak Awal Pekan
Pergerakan harga yang beragam ini mencerminkan sentimen pasar yang masih terbelah. Di satu sisi, investor institusional masih wait and see menanti sinyal kebijakan suku bunga bank sentral AS. Di sisi lain, trader ritel di kawasan Asia, termasuk Indonesia, mulai aktif kembali setelah libur panjang. Para analis menyarankan investor untuk mencermati level support dan resistance terdekat sebelum mengambil posisi.