NUSA TENGGARA TIMUR — Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 631,33 poin atau 1,21 persen ke 51.461,90 setelah The Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 3,75-4,00 persen. Kenaikan pertama sejak 2023 ini disertai sinyal bahwa The Fed masih membuka peluang satu kali kenaikan lagi hingga akhir tahun. S&P 500 turun 33,92 poin atau 0,45 persen ke 7.551,81, sedangkan Nasdaq Composite nyaris tak bergerak di 25.978,43.
Keputusan The Fed diumumkan pada Rabu (16/9) waktu setempat. Ketiga indeks utama sempat menguat dalam perdagangan hari itu sebelum bank sentral AS mengambil keputusan dan Ketua The Fed Kevin Warsh menyampaikan pernyataannya dalam konferensi pers.
Pasar sebenarnya sudah mengantisipasi kenaikan 25 basis poin. Yang membuat investor gelisah adalah nada pernyataan Warsh yang berulang kali menegaskan inflasi belum menuju perbaikan.
Warsh menyebut inflasi masih terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama. Ia juga menilai data inflasi musim panas tidak menunjukkan perbaikan tren yang mendasarinya.
"Fakta sederhananya adalah inflasi terlalu tinggi dan sudah berlangsung terlalu lama," kata Warsh dalam konferensi pers.
"Data inflasi musim panas ini tidak menunjukkan kepada saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara berarti," imbuhnya.
Pernyataan itu membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan pengetatan moneter lebih lanjut. The Fed juga mengisyaratkan masih ada peluang satu kali kenaikan suku bunga lagi hingga akhir tahun.
Dari ketiga indeks utama AS, Dow Jones mencatat penurunan paling dalam. Berikut rincian pergerakan ketiganya:
Selisih penurunan yang lebar antara Dow Jones dan Nasdaq menunjukkan tekanan lebih besar pada saham-saham siklikal dan industrial yang mendominasi indeks Dow. Sektor teknologi yang berbobot besar di Nasdaq relatif bertahan, meski tetap tidak mampu mencatat penguatan.
The Fed menegaskan kenaikan ini merupakan bagian dari upaya menekan inflasi yang dipicu lonjakan harga minyak dan sejumlah faktor lainnya. Ini menjadi kenaikan suku bunga pertama sejak 2023, menandai berakhirnya periode tahan suku bunga yang cukup panjang.
Bagi investor di pasar emerging, termasuk Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting. Suku bunga AS yang lebih tinggi memperlebar selisih imbal hasil dengan obligasi negara berkembang, yang berpotensi menarik aliran modal keluar dari aset berisiko di kawasan Asia.
Perhatian investor kini beralih ke data inflasi berikutnya dan sinyal dari pejabat The Fed lainnya dalam beberapa pekan mendatang. Pasar akan mencermati apakah tekanan harga benar-benar mereda atau justru menguatkan peluang kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Bagi pelaku pasar saham domestik, kombinasi dolar yang berpotensi menguat dan imbal hasil obligasi AS yang naik biasanya menjadi sentimen negatif jangka pendek. Namun dampaknya terhadap IHSG akan sangat bergantung pada respons Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas kurs dan daya tarik imbal hasil surat utang negara.