NAGEKEO — Di sudut tenda pengungsian yang berdiri di halaman Gereja Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo, Abdul duduk perlahan. Ia mencoba menopang tubuhnya dengan alat bantu jalan yang baru saja diterimanya dari tim Dompet Dhuafa. Di sampingnya, sang istri, Fitria, menatap dengan mata berkaca-kaca mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
Penyakit yang diderita Abdul bukan persoalan baru. Fitria menuturkan, suaminya mulai kesulitan buang air kecil pada 2021 dan sempat dirujuk ke Maumere untuk menjalani operasi. Dokter di Maumere kemudian menganjurkan tindak lanjut ke Makassar karena ditemukan sumbatan daging di tubuh Abdul.
“Di Makassar perawatan sebulan, baru operasi lagi,” ungkap Fitria mengenang awal mula sakit yang diderita suaminya, Sabtu (29/8/2026).
Setelah pengobatan itu, kondisi Abdul sempat membaik. Ia bahkan kembali bekerja mencari teripang dan bisa mengendarai motor. Namun, sekitar dua tahun lalu, kondisinya memburuk setelah keduanya terjatuh dari motor saat Abdul hendak menjemput istrinya di feri.
Fitria menceritakan detik-detik kejadian yang membuat suaminya tak bisa berjalan lagi. Saat itu Abdul bersikeras menjemputnya, padahal jalannya berkelok-kelok jika naik motor.
“Saat mencoba naik, dia tidak bisa, lalu kami jatuh. Sejak itu dia tidak bisa berjalan lagi,” kenang Fitria.
Upaya pengobatan pun kembali dilakukan. Selama dua bulan, mereka bolak-balik kontrol menggunakan mobil sewaan karena tidak bisa naik motor. “Kami juga capek bolak-balik. Kami coba carter mobil, berangkat pagi pulang sore. Setelah itu, kondisinya menetap seperti ini,” tambahnya.
Sejak Abdul terbaring, Fitria mengambil alih peran suaminya mencari nafkah. Ia membeli teripang dari nelayan setempat lalu mengirimkannya ke pembeli di Makassar dan Maumere lewat jasa travel.
Perjuangan Fitria tak mulus. Ia pernah menjadi korban penipuan seorang pembeli yang tak kunjung membayar dengan alasan jaringan buruk. “Sampai sekarang belum juga dibayar. Karena itu, saya tidak bisa lagi berjualan teripang, hanya berjualan ikan sedikit-sedikit,” ujarnya.
Ujian lain datang saat gempa mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Fitria harus menyeret tubuh Abdul menuju depan rumah untuk menyelamatkan diri. Air laut mulai masuk ke rumah mereka yang berada persis di depan pantai, hingga keduanya sempat terjatuh di halaman.
Tak berselang lama, tiga anak nelayan yang baru pulang melaut melihat kondisi mereka. Abdul digendong, sementara Fitria dipapah menuju lokasi yang lebih aman.
Setelah mendapatkan penanganan medis dari dr. Rifki Amarullah atau dr. Iki, Dompet Dhuafa melalui kampanye Indonesia Siap Siaga turut membantu para penyintas gempa, termasuk Abdul dan Fitria. Bantuan berupa alat bantu jalan (walker) serta paket sembako diserahkan langsung di tenda pengungsian.
“Terima kasih, Dokter Iki, atas bantuannya. Mudah-mudahan sehat selalu dan banyak rezekinya,” ucap Fitria mewakili keluarganya.