NUSA TENGGARA TIMUR — Perjalanan pemerataan listrik di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara masih jauh dari selesai. Hingga Juli 2026, rasio desa berlistrik PLN di Kaltim baru mencapai 93,06 persen, sementara rasio elektrifikasi tercatat 95,87 persen. Artinya, masih ada sebagian wilayah yang belum menikmati aliran listrik.
Untuk menutup celah tersebut, PLN Unit Induk Distribusi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (UID Kaltimra) menyiapkan pembangunan 875,36 kilometer jaringan tegangan menengah (JTM), 486,62 kilometer jaringan tegangan rendah (JTR), dan 220 unit gardu distribusi. Total jaringan yang dibangun mencapai 1.361 kilometer lebih.
General Manager PLN UID Kaltimra Muchamad Chaliq Fadli mengatakan, proyek ini bukan sekadar membangun infrastruktur. Di balik setiap kilometer jaringan, ada masyarakat yang menanti energi listrik untuk menopang kehidupan sehari-hari.
"Di balik setiap kilometer jaringan yang dibangun, ada masyarakat yang menantikan hadirnya listrik. Ada anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar, keluarga yang ingin menjalankan aktivitas dengan lebih leluasa, dan desa yang memiliki potensi untuk berkembang," ujar Chaliq dalam keterangan resminya.
Sebelum mengejar target 168 desa, PLN baru saja merampungkan elektrifikasi di dua desa di Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur. Warga Desa Senambah dan Desa Mulupan kini menikmati listrik selama 24 jam penuh, setelah bertahun-tahun hanya mengandalkan pembangkit listrik tenaga diesel dengan jam operasi terbatas.
Sebanyak 512 pelanggan di kedua desa tersebut telah resmi teraliri listrik PLN. Kehadiran listrik sepanjang hari langsung mengubah ritme kehidupan warga—anak-anak bisa belajar lebih nyaman, usaha kecil bisa beroperasi lebih lama, dan aktivitas produktif lain mulai tumbuh.
Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman mengapresiasi capaian tersebut. Ia menilai listrik 24 jam menjadi momentum penting bagi pembangunan di kawasan Muara Bengkal.
"Kami berharap sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dan PLN terus diperkuat agar wilayah lain juga dapat merasakan manfaat yang sama," ujar Ardiansyah.
Membangun jaringan listrik di Kalimantan bukan pekerjaan mudah. Bentang wilayah yang luas, jarak antarpemukiman yang berjauhan, medan berat, hingga mobilitas material yang terbatas menjadi tantangan tersendiri bagi tim lapangan.
Chaliq mengakui, hambatan geografis hanya bisa ditaklukkan lewat kolaborasi. Dukungan pemerintah daerah, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci agar pembangunan berjalan lancar dan infrastruktur yang sudah dibangun bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan.
"Kami menyadari bahwa pemerataan listrik tidak dapat dilakukan sendiri. Dukungan pemerintah dan masyarakat sangat penting, baik dalam proses pembangunan maupun dalam memastikan infrastruktur yang telah dibangun dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan," tambahnya.
Keberhasilan elektrifikasi di Senambah dan Mulupan menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan halangan absolut. Kini, pekerjaan rumah berikutnya menanti: menghadirkan listrik di 168 desa lain yang masih gelap—satu per satu, km demi km.