JAKARTA — IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan terbatas di area support 6.080-6.065. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan bursa Amerika Serikat anjlok pada penutupan Senin (22/6) karena aksi jual besar-besaran di saham teknologi berkapitalisasi besar.
Sehari sebelumnya, IHSG ditutup turun 0,98 persen atau 60,45 poin ke level 6.116,69. Penurunan ini disertai net sell asing senilai Rp 1,11 triliun, dengan saham yang paling banyak dilepas adalah BBRI, TPIA, BBNI, TLKM, dan BMRI.
Dari Asia, bursa saham ditutup beragam. Sentimen negatif datang dari negosiasi damai AS dan Iran di Swiss yang gagal—delegasi Iran melakukan walk out setelah Presiden AS Donald Trump kembali mengancam Teheran.
Bank sentral Tiongkok (PBOC) mempertahankan suku bunga acuan pinjaman sesuai ekspektasi. Suku bunga LPR tenor satu tahun tetap di level 3 persen, sedangkan tenor lima tahun di 3,5 persen.
Di dalam negeri, pelaku pasar menunggu hasil review MSCI yang akan memastikan status pasar modal Indonesia—apakah masih masuk kategori emerging market. Selain itu, pasar juga menanti hasil review Standard & Poor's (S&P) Global Standards terhadap peringkat Indonesia.
“Ini akan memastikan apakah pasar modal Indonesia masih masuk kategori emerging market,” kata Tim Analis Phintraco Sekuritas. Pengumuman Annual Market Classification Review dari MSCI akan disampaikan pada Rabu (24/6/2026).
Pelaku pasar disarankan mencermati pergerakan di level support 6.080-6.065. Jika tembus, potensi koreksi lebih dalam masih terbuka hingga akhir pekan.