NUSA TENGGARA TIMUR — Ketua Umum AISMOLI, Budi Setiyadi, mendesak realisasi kebijakan yang konsisten dan bisa diprediksi untuk memastikan pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik nasional. Ajakan itu disampaikan Budi dalam keterangan resmi, Kamis, 18 Juni 2026.
Survei Litbang Kompas yang dilakukan secara tatap muka di Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, dan Makassar menemukan angka dukungan publik yang melampaui ekspektasi. Sebanyak 98 persen responden menyatakan dukungan pada penggunaan kendaraan listrik di Indonesia.
"Ini bukan hasil dari kampanye kesadaran jangka pendek, melainkan cerminan dari penerimaan sosial yang sudah matang," ujar Budi. Tingkat pengenalan publik terhadap kendaraan listrik telah mencapai rata-rata 8,04 dari 10, jauh di atas ambang yang biasanya dibutuhkan untuk mendorong perubahan perilaku massal.
Angka dukungan tidak berhenti di permukaan. Di antara responden yang belum memiliki kendaraan listrik, 81,1 persen menyatakan bersedia beralih jika terbukti peralihan itu memperbaiki kualitas hidup mereka dari sisi kesehatan, lingkungan, dan ekonomi.
Sementara itu, 96,8 persen pengguna yang sudah beralih bersedia merekomendasikannya kepada orang lain. Budi menegaskan rekomendasi itu muncul bukan karena loyalitas merek, melainkan manfaat langsung yang mereka rasakan: biaya operasional lebih rendah, perawatan lebih mudah, dan beban pajak lebih ringan.
Data ITDP yang dipaparkan pada AISMOLI Annual Meeting 2026 memperkuat klaim penghematan tersebut. Biaya operasional motor listrik tercatat 74–83 persen lebih murah dibanding motor bukan listrik. Angka ini menjadi bukti konkret potensi penghematan yang bisa dinikmati konsumen di tengah fluktuasi harga BBM.
Budi menambahkan, situasi saat ini adalah kesempatan yang tidak datang dua kali. Ia mengajak seluruh pemangku kebijakan untuk bersama-sama memanfaatkan momentum ini, bukan berdasar asumsi industri semata, melainkan pada data dukungan publik yang sudah matang.