NUSA TENGGARA TIMUR — Berdasarkan data RTI Business pukul 09.17 WIB, IHSG tercatat turun 20,30 poin atau 0,33 persen ke posisi 6.074. Level terendah harian sempat menyentuh 5.966, sementara level tertinggi hanya mencapai 6.079. Kapitalisasi pasar bursa saat ini tercatat Rp10.533 triliun.
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai IHSG masih berpotensi melanjutkan koreksi setelah menutup area gap. "Kami memperkirakan IHSG masih berpotensi melanjutkan pelemahan dengan area koreksi berikutnya di kisaran 5.899-5.999," ujarnya dalam riset harian.
Herditya memasang support harian di level 5.996 dan 5.899. Jika tembus, resistance terdekat berada di 6.318 dan 6.459. Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova melihat sinyal bearish yang kuat setelah indeks gagal bertahan di atas celah teknikal.
Ivan memberikan catatan penting bagi investor yang ingin memanfaatkan potensi koreksi. Menurutnya, peluang rebound jangka pendek masih terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas level 5.967. "Jika IHSG turun di bawah 5.911, pelemahan berpotensi berlanjut menuju 5.700," jelas Ivan.
Ia memproyeksikan rentang support IHSG berada di 5.911, 5.673, dan 5.439. Sementara resistance jangka panjang membentang di 6.459, 6.755, hingga 7.001.
Sepanjang sesi awal perdagangan, volume saham yang berpindah tangan mencapai 6,20 miliar lembar. Nilai transaksi tercatat Rp2,87 triliun dengan frekuensi 314.930 kali. Sebanyak 221 saham menguat, sementara 362 saham lainnya tertekan dan 145 saham stagnan.
Tingginya volume di tengah pelemahan mengindikasikan aksi jual masih mendominasi. Namun, tekanan jual mulai diimbangi oleh aksi beli di level diskon.
Dari dua proyeksi analis, titik kritis yang harus dipertahankan IHSG adalah level 5.967-5.911. Jika indeks mampu bertahan di zona tersebut, peluang technical rebound terbuka dalam beberapa sesi ke depan. Sebaliknya, jika tembus di bawah 5.899, koreksi berpotensi berlanjut ke level 5.700.
Investasi mengandung risiko. Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor berdasarkan profil risiko masing-masing.