NUSA TENGGARA TIMUR — Peresmian IBMA berlangsung kurang dari setahun setelah Presiden Prabowo Subianto meluncurkan layanan bank emas pada 26 Februari 2025 lalu. Kinerja awal yang positif, termasuk pengelolaan emas mencapai 170 ton, mendapat apresiasi langsung dari Presiden dalam Pidato Kenegaraan 14 Agustus 2026. Prabowo menilai bank emas menjadi terobosan strategis untuk mengamankan aset nasional dan memperkuat sistem keuangan.
Selfie Dewiyanti menegaskan IBMA dirancang sebagai mitra strategis regulator, bukan sekadar organisasi industri biasa. Asosiasi ini menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dari sektor pertambangan, jasa keuangan, hingga pemurnian dan manufaktur.
Selama ini Indonesia yang merupakan salah satu produsen emas terbesar dunia belum memiliki lembaga tunggal untuk menetapkan standar industri yang seragam. Akibatnya, potensi pasar bullion nasional belum teroptimalkan. IBMA hadir untuk mengisi celah tersebut dengan fokus pada kolaborasi, standardisasi, dan edukasi ekosistem.
Peresmian dilakukan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo. Sebanyak 11 founder IBMA yang diwakili direktur utama masing-masing perusahaan turut menyaksikan momen ini.
Kehadiran asosiasi ini mendapat sambutan dari berbagai pemangku kepentingan. Wakil Kepala BP BUMN Aminuddin Ma'ruf, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Dicky Kartikoyono, dan Kepala Badan Standardisasi Nasional Donny Purnomo Januardhi Effyandono hadir dalam peresmian tersebut.
Representatif World Gold Council dan Malaysia Gold Association juga turut hadir, menandakan ambisi Indonesia untuk terhubung dengan pasar emas global. Kepala Bappebti Tirta Karma Senjaya serta Chief Economist BPI Danantara Reza Yamora Siregar turut memberikan dukungannya.
Dengan 153 ton emas yang dikelola, Pegadaian memegang peran sentral dalam ekosistem bank emas nasional. Capaian ini sekaligus menjadi modal bagi Selfie Dewiyanti untuk mengakselerasi penguatan pasar bullion melalui IBMA.
Langkah ini sejalan dengan target pemerintah mewujudkan Asta Cita, khususnya dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia. Keberadaan IBMA diharapkan mampu mendorong Indonesia menjadi pusat pasar bullion yang kredibel, efisien, dan berkelanjutan di kawasan.
Konsolidasi industri melalui asosiasi tunggal ini menjadi kunci agar ekosistem emas nasional tidak hanya tumbuh di dalam negeri, tetapi juga mampu bersaing di pasar internasional. Dengan fondasi geologis yang kuat dan dukungan regulator, Indonesia kini memiliki wadah resmi untuk mewujudkan ambisi tersebut.