NUSA TENGGARA TIMUR — Proyeksi itu disampaikan manajemen BYD dalam pertemuan dengan investor. Sepanjang Januari–Agustus 2026, penjualan kendaraan penumpang dan pikap BYD di pasar luar negeri sudah menyentuh 1.157.954 unit, tumbuh lebih dari 85 persen secara tahunan.
Pengiriman Agustus 2026 bahkan mencatat rekor bulanan 188.746 unit, melonjak 134,6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka itu menjadi modal BYD menaikkan target dua tahun ke depan.
Pabrik Indonesia Sudah Mulai Produksi
Lokalisasi produksi menjadi kunci strategi global BYD, bukan sekadar mengandalkan ekspor dari China. Pabrik BYD di Indonesia telah memulai produksi, sementara fasilitas di Brasil terus mengejar target kapasitas tahunan 300.000 unit.
Di Eropa, pabrik BYD di Hungaria diperkirakan mulai merakit kendaraan pada November atau Desember 2026. Perusahaan masih mengevaluasi sejumlah lokasi baru untuk fasilitas produksi tambahan.
BYD menyebut laba rata-rata per kendaraan di pasar luar negeri mencapai sekitar RMB20.000 atau sekitar US$3.000 pada semester pertama 2026. Meski fluktuasi nilai tukar jadi tantangan, perusahaan memperkirakan profitabilitas tetap stabil.
Produksi lokal berpotensi tertekan pada tahap awal karena utilisasi pabrik belum optimal. Setelah beroperasi stabil satu hingga dua tahun, BYD memperkirakan biaya produksi lokal bisa lebih kompetitif dibanding mengirim kendaraan utuh dari China.
Logistik Pengiriman Masih Jadi Penghambat
BYD mengakui ekspansi ekspor belum berjalan mulus. Keterbatasan sumber daya pengiriman disebut sebagai salah satu faktor yang menahan pertumbuhan penjualan internasional.
Karena itu, penambahan kapasitas dan jaringan logistik masuk dalam daftar prioritas strategi ekspansi global perusahaan. Tanpa perbaikan di sisi ini, target 2 juta unit berisiko sulit dikejar.
Charging Station Megawatt Dikebut di China dan Eropa
Ekosistem pengisian daya dibangun berbarengan dengan ekspansi kendaraan. Di China, BYD menargetkan 20.000 stasiun pengisian megawatt hingga akhir 2026, ditambah 30.000 stasiun pada 2027 dan 40.000 stasiun pada 2028.
Jika terealisasi, total jaringan charging megawatt BYD di China akan mencapai sekitar 90.000 stasiun pada 2028. Hingga 28 Agustus 2026, perusahaan mengklaim sudah mengoperasikan sekitar 10.000 stasiun di 332 kota.
Untuk pasar internasional, BYD memanfaatkan jaringan global Shell. Target jangka pendeknya 6.000 stasiun, dengan ekspansi yang sudah menyasar Jerman dan Inggris.
Backlog 250.000 Unit di Pasokan Baterai
Permintaan kendaraan dengan teknologi pengisian cepat belum sepenuhnya terpenuhi. Model yang mendukung pengisian daya cepat saat ini memiliki backlog sekitar 250.000 unit.
Kondisi itu membuat kapasitas produksi baterai jadi penentu kemampuan BYD memenuhi permintaan pasar. BYD memperkirakan keterbatasan Blade Battery generasi kedua bisa teratasi sepenuhnya pada kuartal pertama 2027.
Intelligent Driving dan AI Jadi Fokus Investasi Berikutnya
Teknologi mengemudi cerdas yang dikembangkan internal diperkirakan meningkat signifikan pada 2027. BYD juga bersiap menghadapi implementasi regulasi autonomous driving Level 3 di China.
Strategi rantai pasok terbuka tetap dipertahankan dengan memberi ruang bagi pemasok eksternal bersaing. Skala produksi, data pengguna, dan integrasi perangkat keras vertikal menjadi senjata BYD memperkuat keunggulan teknologinya.