LARANTUKA — Ratusan kendaraan pengangkut material proyek jalan menuju huntap Gunung Lewotobi berhenti total di ruas jalan Desa Pululera, Kecamatan Wulanggitang, Kamis pagi. Para sopir yang tergabung dalam proyek senilai Rp41,5 miliar itu mengeluhkan pembayaran yang tak kunjung tiba sejak Mei 2026.
Kesepakatan Panjar Rp6 Juta di Awal Bulan Tak Dipenuhi
Menurut salah seorang sopir yang enggan disebutkan namanya, kontrak satu kendaraan mencapai Rp16 juta per bulan. Dari jumlah tersebut, disepakati panjar Rp6 juta dibayar di awal bulan dan sisanya Rp10 juta dilunasi setelah jatuh tempo.
“Bulan ini belum bayar. Kami sudah sampaikan kepada pak mereka (pihak PT Dewi Graha Indah), mereka hanya minta kami bersabar dan bersabar lagi,” ujarnya kepada Ekora NTT.
Para sopir mulai bekerja sejak Januari 2026. Setiap hari, tanpa hari libur, mereka mengangkut material pasir dan batu dari titik galian di Desa Dulipali, Kecamatan Ile Bura, ke lokasi proyek yang berjarak 4 hingga 9 kilometer. Dalam sehari, satu truk bisa melaju hingga 15 rit.
Ancaman Pemutusan Kontrak Jika Tak Kooperatif
Para sopir mengaku sempat mendapat tekanan. Beberapa di antaranya diancam akan dipecat jika terus menuntut haknya secara vokal. Kekhawatiran itu membuat mereka enggan menyebutkan nama saat berbicara dengan media.
“Kami hanya ingin hak kami segera dikasih, pak. Kami di rumah juga dikejar angsuran utang dan biaya hidup. Kami harus bagaimana lagi?” ungkapnya.
Mereka berjanji akan kembali bekerja begitu upah dan sewa kendaraan dibayarkan. Para sopir meminta pihak penyedia proyek memahami kondisi ekonomi pekerja lapangan yang menggantungkan hidup dari proyek infrastruktur tersebut.
PPK dan Kontraktor Belum Memberi Tanggapan
Hingga berita ini diturunkan, PT Dewi Graha Indah melalui bagian operasional dan logistik, Farisal, belum merespons permintaan konfirmasi terkait aksi mogok tersebut.
Sementara itu, PPK 4.5 Balai Pelaksana Jalan Nasional NTT, Viktor Nalle, yang bertanggung jawab atas proyek jalan ke huntap, juga belum memberikan penjelasan. Saat dihubungi, Viktor mengaku sedang mengikuti rapat penting bersama Bupati Flores Timur, Antonius Doni Dihen, di Kantor Bupati.
“Sedang rapat di Kantor Bupati, selesai saya bisa hubungi kembali,” kata Viktor melalui pesan WhatsApp.