NUSA TENGGARA TIMUR — Pergerakan rupiah pagi ini melanjutkan tren negatif yang terjadi selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 2026. Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan mata uang Garuda akan berkonsolidasi dengan rentang pergerakan di Rp17.750 per dolar AS hingga Rp17.800 per dolar AS.
Mata Uang Asia dan Negara Maju Kompak Melemah
Tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Sejumlah mata uang regional ikut terdepresiasi pada pembukaan pagi ini, dengan won Korea Selatan menjadi yang terlemah setelah turun 0,71 persen. Berikut pergerakan mata uang Asia lainnya:
- Yen Jepang melemah 0,14 persen
- Baht Thailand melemah 0,17 persen
- Yuan China melemah 0,02 persen
- Peso Filipina melemah 0,18 persen
- Dolar Singapura melemah 0,11 persen
- Dolar Hong Kong melemah 0,01 persen
Di negara maju, euro Eropa tercatat melemah 0,12 persen, poundsterling Inggris turun 0,01 persen, dan franc Swiss terdepresiasi 0,27 persen. Dolar Australia dan dolar Kanada masing-masing melemah 0,01 persen dan 0,11 persen.
Dua Faktor Tekanan: Konflik Global dan Kebutuhan Valas Domestik
Menurut Lukman, investor masih bersikap wait and see terhadap perkembangan negosiasi AS-Iran yang belum menunjukkan titik terang. Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mengantisipasi rilis data ekonomi domestik penting pada besok, yaitu inflasi dan neraca perdagangan. "Harga minyak yang sudah menurun bisa mendukung rupiah," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com, Senin (1/6).
Bank Indonesia (BI) sebelumnya mencatat tekanan terhadap rupiah selama periode libur dipicu oleh dua hal. Pertama, ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah. Kedua, meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) di dalam negeri secara musiman, seperti untuk pembayaran utang luar negeri (ULN) dan repatriasi dividen di tengah terbatasnya arus masuk dolar AS.
BI Siaga Intervensi di Pasar
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan otoritas moneter tetap hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. "Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, around the world, around the clock," kata Ramdan dalam pernyataan pada Jumat (29/5).
Intervensi dilakukan melalui berbagai instrumen yang dimiliki BI guna menahan laju pelemahan rupiah yang masih dibayangi ketidakpastian global dan kebutuhan valas domestik yang tinggi.