Harga Perak Antam Turun Rp 300 Jadi Rp 35.550 per Gram

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Jumat, 06 November 2026 | 10:34:32 WIB
Harga perak Antam turun Rp 300 menjadi Rp 35.550 per gram pada perdagangan Jumat (6/11/2026).

NUSA TENGGARA TIMUR — Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) turun Rp 300 menjadi Rp 35.550 per gram pada perdagangan Jumat (6/11/2026), mengikuti pelemahan harga perak dunia yang berada di US$ 51,75 per ons. Penurunan tipis ini terjadi di tengah kenaikan mingguan perak sekitar 5% setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat.

Meski turun harian, perak justru mencatat kenaikan mingguan sekitar 5%. Pasar merespons kemenangan telak Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu (midterm elections) di Amerika Serikat. Pelaku pasar memperkirakan Partai Demokrat akan berupaya mengakhiri konflik di Iran, yang berpotensi menurunkan harga minyak dan meredakan tekanan inflasi.

Mengapa Politik AS Menggerakkan Harga Perak

Ekspektasi berakhirnya konflik Iran membuat harga minyak berpotensi turun, sehingga tekanan inflasi mereda. Kondisi ini mengurangi kemungkinan kenaikan suku bunga yang lebih agresif dari Federal Reserve. Bagi perak dan emas, suku bunga yang lebih rendah berarti biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil menjadi lebih ringan.

Investor juga mengantisipasi pemerintahan yang terpecah (divided government). Konfigurasi politik ini dinilai dapat menghambat agenda fiskal Presiden Donald Trump, sehingga membatasi pengeluaran dan pinjaman pemerintah sekaligus meredam kekhawatiran inflasi lanjutan.

Di sisi lain, aksi jual di pasar ekuitas global kian intensif. Pasar khawatir Partai Demokrat akan menerapkan regulasi lebih ketat terhadap industri kecerdasan buatan (artificial intelligence) dan membatasi ekspansi pusat data. Tekanan itu memicu aksi jual logam mulia demi mendapatkan likuiditas.

Obligasi Jadi Penyeimbang, Perak Bertahan

Tekanan jual tersebut diimbangi meningkatnya permintaan obligasi sebagai aset aman (safe-haven). Aliran dana ke obligasi menekan imbal hasil (yield), yang pada gilirannya mendukung permintaan aset non-yielding seperti perak. Harga perak di pasar spot sendiri tercatat tidak berubah di US$ 52,23 per ons.

Pergerakan perak tidak lepas dari dinamika emas. Harga emas dunia mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua minggu pada Kamis (5/11/2026), naik 1% menjadi US$ 4.100,27 per ons. Sepanjang pekan, emas telah naik lebih dari US$ 250 dari level terendah setahun di US$ 3.869,85.

Dolar AS berada di level terendahnya sejak 30 September, membuat emas dan perak yang dihargai dalam dolar menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lain. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga berada di level terendah dalam hampir dua bulan.

Sinyal Suku Bunga Desember dan Data Tenaga Kerja

Menurut perangkat FedWatch dari CME, pelaku pasar melihat peluang 66% bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada Desember. Data non-farm payrolls Amerika Serikat yang dirilis Jumat menjadi petunjuk arah kebijakan bank sentral.

"Bukan berarti ekspektasi kenaikan suku bunga telah hilang sepenuhnya saat ini," ujar Direktur High Ridge Futures, David Meger. "Dengan melemahnya harga energi, muncul harapan bahwa kekhawatiran inflasi akan mereda, sehingga kebutuhan untuk menaikkan suku bunga di masa mendatang mungkin berkurang," ia menambahkan.

Pedagang logam independen Tai Wong menilai data ketenagakerjaan belakangan cukup fluktuatif. Menurut dia, harga emas bisa rentan jika angka yang muncul lebih kuat dari perkiraan, karena akan mengonfirmasi kenaikan suku bunga Desember yang sudah sangat diantisipasi.

Di sektor logam lain, harga platinum naik 1,6% menjadi US$ 1.520,75 per ons dan paladium meningkat 3,8% menjadi US$ 1.042,24 per ons. Harga minyak mentah Brent tetap di bawah US$ 100 per barel setelah anjlok hampir 9% pada sesi sebelumnya.

Bagi investor ritel di Indonesia, penurunan Rp 300 per gram terbilang tipis dibandingkan fluktuasi harga dunia. Namun arah perak pekan ini tetap ditopang ekspektasi pelonggaran tekanan inflasi dan pelemahan dolar AS, dua faktor yang secara historis menguntungkan logam mulia.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top