MAUMERE — Yunus Noce Fernandez menyampaikan permintaan tersebut saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) di gedung DPRD Kabupaten Sikka. Menurutnya, persoalan mendasar di daerah itu belum tuntas, mulai dari krisis air bersih hingga sampah yang menumpuk.
Ia menilai dana CSR perbankan semestinya menyentuh persoalan tersebut ketimbang dipakai mempercantik fasilitas publik. "Kita ingin bekerja sama dengan perbankan. Di Sikka ini masih banyak permasalahan sosial dan infrastruktur dasar yang mesti disentuh," ujar Noce dalam rapat itu.
Noce menjabarkan dua sektor yang ia anggap paling layak menerima dana CSR. Pertama, pengembangan bank sampah untuk mengatasi masalah lingkungan. Kedua, penyediaan fasilitas air bersih bagi desa-desa yang kesulitan air.
"Ke depan kita bantu yang produktif sebagai kerja sama mitra, seperti pengembangan bank sampah untuk mengatasi masalah lingkungan atau penyediaan fasilitas air bersih untuk desa-desa yang kesulitan air. Jangan cuma bantuan untuk tugu," ujarnya.
Sentilan Ketua DPC Partai Demokrat Sikka itu merespons rencana Pemkab Sikka memakai dana CSR untuk menata, mendesain ulang, dan mempercantik sejumlah fasilitas publik, tugu, serta taman di Kota Maumere.
Rencana penataan Kota Maumere diawali acara Coffee Morning bersama Forum Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (FTJSL) Kabupaten Sikka pada Selasa, 5 Oktober di Warung 69, Kelurahan Madawat, Kecamatan Alok. Pemerintah setempat menggandeng perbankan, BUMN, lembaga keuangan, dan lembaga swasta dalam acara itu.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sikka, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, menyebut kegiatan tersebut bertujuan membangun sinergi antara pemerintah daerah dengan perbankan dan BUMN. Fokusnya penataan Kota Maumere, khususnya dari sisi estetika dan manfaatnya.
"Maumere selama ini dikenal sebagai salah satu kota besar di Provinsi Nusa Tenggara Timur setelah Kota Kupang. Namun, status ini berubah setelah Pemerintah Pusat menetapkan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, sebagai salah satu destinasi super prioritas. Karena itu kita perlu berkolaborasi lebih erat untuk bersama menciptakan Kota Maumere sebagai hunian bersama yang indah," papar dia.
Sejumlah fasilitas masuk dalam rencana penataan pemerintah daerah:
Pemkab Sikka berharap seluruh penataan itu terwujud lewat program CSR dan mitra kerja. Dengan begitu, rencana tersebut tidak sepenuhnya membebani anggaran pemerintah kabupaten.
Bupati Sikka, Juventus Prima Yoris Kago, dalam arahannya mengajak pimpinan BUMN dan BUMD mewujudkan rencana penataan Kota Maumere. Ia menempatkan kemitraan sebagai pendekatan utama pembangunan daerah.
"Kemitraan dan kolaborasi menjadi tren penting. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri. Keterlibatan masyarakat, pelaku usaha, perbankan, koperasi, BUMN, serta pelaku UMKM adalah penting untuk memberikan kontribusi bagi pembangunan Kabupaten Sikka," ujarnya.
Perbedaan pandangan antara DPRD dan eksekutif kini mengerucut pada satu pertanyaan: apakah dana CSR perbankan dipakai memperindah wajah kota, atau lebih dulu menambal kebutuhan dasar warga di desa-desa yang masih kesulitan air bersih.