NUSA TENGGARA TIMUR — Kepala Desain Eksterior Skoda, Karl Neuhold, mengaku terkejut dengan kecepatan AI mengubah sketsa sederhana menjadi rendering mobil realistis hanya dalam hitungan detik. Kemampuan itu kini ia pakai di alur kerja harian, tapi memicu pertanyaan besar soal nasib desainer manusia dan profesi kreatif lain di industri otomotif.
Wawancara Neuhold dengan media Belanda Autoweek.nl membuka sisi yang jarang dibahas publik: bukan soal mobil listrik atau sistem kemudi otonom, melainkan bagaimana proses desain di balik layar sudah berubah. Ia tidak sekadar mengamati dari jauh, tapi sudah memakai teknologi itu untuk pekerjaannya sendiri di Skoda.
Yang membuat Neuhold terkejut bukan sekadar kecepatan, tapi kualitas output-nya. Berbekal sketsa dasar, AI menghasilkan rendering digital yang tampak hampir seperti mobil sungguhan, lengkap dengan pantulan cahaya, bayangan, dan latar lingkungan yang meyakinkan.
Sebelumnya, proses serupa butuh waktu dan tenaga besar untuk menyusun tiap elemen visual secara manual. Kini desainer bisa menguji banyak variasi gagasan tanpa harus menghabiskan berjam-jam menyusun ulang setiap detail.
Kemampuan menghasilkan banyak alternatif desain dalam waktu singkat mengubah cara kerja tahap eksplorasi. Desainer bisa membandingkan puluhan arah desain sebelum memutuskan satu yang layak dilanjutkan ke tahap produksi.
Di sisi lain, kecepatan itu justru memunculkan kekhawatiran. Pekerjaan yang dulu jadi lahan desainer manusia kini bisa diselesaikan mesin dalam hitungan detik, memicu pertanyaan soal nilai tambah yang tersisa bagi tenaga kreatif.
Neuhold tidak menyatakan AI akan menggantikan desainer sepenuhnya. Ia lebih menekankan bagaimana teknologi ini sudah masuk ke alur kerja dan mengubah ritme proses desain di Skoda.
Yang perlu dicermati, kemampuan AI menghasilkan visual realistis dari sketsa sederhana membuat batas antara drafter dan desainer makin kabur. Peran manusia berpotensi bergeser dari eksekusi visual ke pengambilan keputusan estetika dan strategi desain.
Desain bukan satu-satunya bidang yang terpapar. Vlogger otomotif, content creator, dan pekerja visual lain di ekosistem otomotif menghadapi tekanan serupa begitu AI makin murah dan mudah diakses.
Bagi konsumen, dampaknya bisa terasa pada siklus pembaruan model yang lebih cepat. Tapi bagi pekerja kreatif, pertanyaannya lebih mendasar: keterampilan mana yang masih bernilai di pasar kerja otomotif lima tahun ke depan.
Bagi desainer otomotif di Indonesia, sinyal ini layak jadi perhatian. Studio desain lokal yang belum mengadopsi AI berisiko kalah cepat dalam tahap eksplorasi konsep, sementara yang sudah memakai tetap butuh mata manusia untuk menilai apakah hasilnya layak diproduksi.