NUSA TENGGARA TIMUR — Film Ibuku garapan Eddie Cahyono memenangkan Busan Award Special Jury Prize kategori Main Competition di Busan International Film Festival 2026. Kemenangan ini menjadikan Ibuku sebagai film Indonesia pertama yang meraih penghargaan di kompetisi utama BIFF. Penghargaan diterima langsung Eddie Cahyono di atas panggung, disaksikan jajaran tim produksi dan aktris Christine Hakim.
Film Ibuku diproduseri Tika Bravani dan dikembangkan selama lebih dari 11 tahun sebelum akhirnya tayang di Busan. Proyek ini sempat tertunda berkali-kali, namun Eddie Cahyono dan Christine Hakim berkomitmen menyelesaikannya bersama. Dalam catatan produksi, Tika Bravani disebut sebagai pihak yang gigih mewujudkan film ini hingga rampung.
Busan Award Special Jury Prize adalah penghargaan yang diberikan dewan juri kepada film di dalam kompetisi utama yang dinilai punya pencapaian sinematik luar biasa. Kategori Main Competition BIFF termasuk yang paling ketat karena bersaing dengan karya-karya sutradara internasional. Kemenangan Ibuku tercatat sebagai yang pertama bagi film Indonesia di kompetisi utama festival tersebut.
Saat menerima penghargaan, Eddie Cahyono tampak terharu. Ia menyampaikan terima kasih kepada BIFF dan seluruh tim yang terlibat.
"Terima kasih BIFF, karena film ini dibuat 11 tahun yang lalu. Saya mencoba untuk membuat film ini menjadi kenyataan. Saya dan Christine Hakim berjanji untuk menyelesaikan film ini bersama. Terima kasih ke produser saya, Tika Bravani, perempuan berani yang mewujudkan film ini. Saya mendedikasikan film ini ke pekerja imigran Indonesia, karena saya menulis film ini untuk mereka, serta para keluargaku, khususnya ibuku di rumah yang mungkin menonton saya," ujar Eddie Cahyono dalam keterangan resmi, Kamis (15/10/2026).
Ibuku menampilkan kolaborasi akting Christine Hakim dan Ayushita. Christine berperan sebagai Sumiati, seorang ibu yang berjuang menemui anaknya, Sri (Ayushita), yang divonis hukuman mati di penjara Arab Saudi karena dituduh membunuh majikannya.
Di balik upaya pertemuan itu, film ini menyingkap luka lama antara ibu dan anak. Isu buruh migran, perempuan, dan hak asasi manusia dibahas secara personal — pendekatan yang jarang diambil sinema Indonesia.
Ibuku direncanakan menyapa penonton Indonesia dalam waktu dekat. Belum ada tanggal pasti rilis domestik yang diumumkan pihak produksi. Kabar ini dinanti mengingat film sudah lebih dulu mendapat pengakuan di kancah internasional.
Kemenangan di Busan menambah daftar capaian film Indonesia di festival kelas dunia, sekaligus membuka peluang distribusi yang lebih luas ke pasar global.