JAKARTA — Keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin membawa suku bunga the Fed di September 2026 ke level 3,75-4 persen. Kenaikan tersebut diambil secara bulat dalam rapat FOMC pada Rabu waktu setempat.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 6.350-6.400 pada level support dan 6.500-6.540 pada level resistansi.
"Hari ini IHSG berpotensi 'sideways' cenderung melemah seiring dengan kenaikan suku bunga the Fed," kata Fanny Suherman, Kamis, 17 September 2026.
Pada Rabu kemarin, IHSG ditutup turun 0,38 persen dengan net sell asing mencapai Rp592 miliar. Lima saham yang paling banyak dijual asing adalah BMRI, BUMI, BBCA, ADRO, dan ITMG.
Keputusan the Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak Juli 2023 disebut sebagai langkah mendorong penurunan inflasi yang lebih cepat.
"The Fed juga mengatakan, pengetatan lebih lanjut kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat. Langkah itu untuk mendorong penurunan inflasi yang lebih cepat," kata Fanny mengutip pernyataan Ketua the Fed, Kevin Warsh.
Warsh menyatakan ekonomi AS menguat sejak pertemuan the Fed terakhir. Namun tren inflasi menunjukkan sedikit perbaikan.
Bursa saham Amerika Serikat melemah setelah pengumuman kenaikan suku bunga. Dow Jones Industrial Average turun 1,21 persen, S&P 500 turun 0,44 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,01 persen.
Sebaliknya, bursa saham kawasan Asia menguat pada Rabu kemarin. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,7 persen, Hang Seng Hong Kong naik 0,2 persen, dan Kospi Korea Selatan melesat 1,4 persen.
Penguatan terjadi karena kawasan Asia masih menunggu keputusan the Fed pada saat penutupan perdagangan.
"Setelah the Fed menaikkan suku bunga, investor bersikap hati-hati dengan keputusan Bank of Japan hari Jumat besok," ucap Fanny.
Bank of Japan (BOJ) diprakirakan juga akan menaikkan suku bunga. Kondisi itu membuat tren suku bunga tinggi berlangsung lebih lama.