PLN Garap PLTS 100 GWp untuk Hemat Rp73,9 Triliun per Tahun

Penulis: Chandra Kusuma  •  Kamis, 03 September 2026 | 18:51:01 WIB
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan konversi pembangkit diesel ke energi surya mampu menghemat APBN hingga Rp73,9 triliun per tahun.

NUSA TENGGARA TIMUR — Pemerintah mencatat masih ada 12,6 gigawatt pembangkit listrik di Indonesia yang mengandalkan solar sebagai bahan bakarnya. Konsumsi ini setara dengan 230 ribu hingga 250 ribu barel minyak per hari. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa konversi pembangkit diesel ke energi surya akan secara langsung memangkas volume impor BBM.

"Ini mampu menghemat APBN kita dari subsidi solar. Jadi kalau ini mampu kita lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM khususnya dari solar akan turun dan semuanya akan memakai energi nasional," ujar Bahlil dalam keterangan tertulisnya. Hemat Rp73,9 Triliun dan Kurangi Impor Solar

Penggantian pembangkit berbahan bakar gas uap dan diesel dengan PLTS yang dilengkapi BESS disebut mampu menciptakan efisiensi biaya energi yang masif. Selain penghematan fiskal sebesar Rp73,9 triliun per tahun, program ini juga dirancang untuk memperkuat industri manufaktur dalam negeri.

Indonesia dinilai sudah siap dari sisi rantai pasok karena telah memiliki industri panel surya dan pabrik baterai penyimpanan di dalam negeri. Ketergantungan pada komponen impor pun diyakini akan semakin kecil seiring berjalannya program.

"Indonesia sudah memiliki industri panel surya dan industri baterai penyimpanan listrik/BESS di dalam negeri, sehingga melalui PLTS 100 GWp kita betul-betul akan berdiri di atas kaki kita sendiri," kata Bahlil. Awal Pengembangan: 14 Proyek dengan Kapasitas 5,3 GWp

Tahap awal pengembangan program ini mencakup 14 proyek yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dengan total kapasitas mencapai 5,3 GWp. Dari proyek perdana tersebut, potensi penghematan bahan bakar minyak diperkirakan mencapai 319.998 kiloliter per tahun.

Selain mengurangi pemakaian solar, proyek tahap awal ini juga menekan konsumsi gas alam hingga 35,66 ribu million standard cubic feet (MMSCF) per tahun, setara dengan 36.980 billion british thermal unit (BBTU). Efisiensi ini berpotensi menghemat anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) sekitar Rp4,6 triliun per tahun untuk biaya listrik.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan bahwa pengembangan PLTS skala besar adalah langkah strategis mentransformasi sistem kelistrikan nasional. Teknologi BESS memungkinkan energi surya yang bersifat intermiten—bergantung pada cuaca—tetap bisa diintegrasikan secara stabil ke jaringan listrik.

"Kita beralih dari energi kotor menjadi energi bersih, dari energi impor menjadi energi domestik, serta dari energi mahal menjadi energi yang lebih murah," ujar Darmawan. Turunkan Emisi dan Buka Lapangan Kerja

Dampak lingkungan dari program ini juga signifikan. Secara keseluruhan, PLTS 100 GWp diproyeksikan menekan emisi gas rumah kaca hingga 140,16 juta ton CO? per tahun. Angka tersebut sekaligus membuka potensi perdagangan karbon yang nilainya diperkirakan mencapai Rp6,31 triliun.

Dari sisi ekonomi, pengembangan proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 5,5 juta tenaga kerja. Rinciannya, 3,465 juta lapangan kerja di sektor konstruksi dan 2,053 juta lapangan kerja di sektor manufaktur.

"Pengembangan PLTS merupakan salah satu upaya dalam membangun sistem energi yang lebih mandiri, efisien, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap penguatan ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat," tutup Darmawan.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top