NUSA TENGGARA TIMUR — Kabar pensiun Lionel Messi dari skuad Albiceleste diumumkan via media sosial pada Senin (31/8) malam WIB. Keputusan itu jadi penanda berakhirnya era 20 tahun sang kapten membela negaranya, termasuk 15 tahun terakhir sebagai pemimpin tim.
Pertanyaan besar yang langsung mengemuka di kalangan pendukung: siapa yang berani mengisi kekosongan luar biasa itu? Media Argentina ramai menyebut Nico Paz sebagai favorit terkuat—bukan karena gaya mainnya yang spektakuler, melainkan kemampuannya membaca ruang dan mengatur irama permainan.
Paz menghabiskan sembilan tahun di akademi Real Madrid sebelum akhirnya menembus tim utama lewat pintu pinjaman di Como. Setelah dipermanenkan, performanya melejit.
Bersama Como, ia sudah mengemas 19 gol dan 17 assist dari 77 penampilan di seluruh kompetisi. Lebih penting lagi, perkembangan pesatnya terjadi di bawah asuhan Cesc Fabregas—sosok yang paham betul cara mendidik playmaker modern.
Fasilitas yang ia punya tergolong langka untuk pemain seusianya: visi melintang, insting mencetak gol tajam, dan keberanian meminta bola di area berisiko. Ia bukan sekadar pengatur serangan, melainkan eksekutor lini kedua yang bisa diandalkan.
Catatan internasionalnya memang belum mentereng. Sejak debut pada 2024, Paz baru mengoleksi 11 caps dengan satu gol.
Selama kualifikasi Piala Dunia 2026, menit bermainnya terbatas. Ia hanya tampil dua kali: 10 menit sebagai pengganti kala menghadapi Aljazair, lalu tampil 61 menit sebagai starter saat melawan Yordania. Posisinya pun fleksibel—Lionel Scaloni pernah memakainya sebagai gelandang tengah dan dua kali sebagai penyerang sayap kiri.
Meski begitu, fleksibilitas ini justru terlihat positif. Ia sanggup menempati berbagai peran tanpa kehilangan identitas main. Scaloni tampaknya masih menyusun puzzle agar bisa memaksimalkan potensinya.
Menekan adalah warisan paling besar yang ditinggalkan Messi. Selama dua dekade, hampir semua skema permainan Argentina berporos pada dirinya—sejak Piala Dunia 2006 sampai gelar juara dunia yang membungkam kritik.
Paz saat ini masih seumur jagung sebagai pemain tim nasional. Namun dengan jam terbang Serie A yang terus bertambah dan jam terbang internasionalnya yang masih minim, ia bukan tidak mungkin menempuh jalan yang sama seperti pendahulunya.
Liga Italia adalah panggung ideal untuk mengasah ketenangan di bawah tekanan. Tapi panggung Argentina selalu punya standar jauh lebih tinggi—semua mata menuntut gelar, bukan sekadar janji manis. Kini, misi Paz bukan lagi membuktikan diri bisa menembus skuad, melainkan membangun warisan baru seusai bayang-bayang Messi resmi berakhir.