NUSA TENGGARA TIMUR — Kemacetan di kawasan wisata Bali, khususnya koridor Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai menuju Canggu, Kabupaten Badung, sebentar lagi punya jalan keluar. KAI bersama Pemerintah Provinsi Bali meneken kerja sama pembangunan trem listrik bertenaga baterai sepanjang 12 kilometer yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
KAI sengaja memilih konsep trem ketimbang MRT atau LRT karena dimensinya yang ringkas dan ramah lingkungan. Lebar trase hanya sekitar 3 meter dengan lebar bodi 2 meteran—lebih ramping dari bus biasa—sehingga ideal dipadukan dengan jalanan Bali yang khas.
Trem ini berbasis baterai, artinya tidak perlu kabel listrik menggantung di sepanjang jalur. Koridor sepanjang 12 km itu dirancang dengan dua rel atau double track plus area persilangan (crossing line) untuk menjaga kelancaran operasional. Dengan kapasitas maksimal 60 ribu penumpang per hari, trem ini diperkirakan mampu menyerap sekitar 40 persen kepadatan mobilitas di koridor Bandara–Canggu.
Pada tahap awal operasional, trem diproyeksikan mengangkut 15 ribu hingga 20 ribu penumpang secara bertahap. Waktu tempuh dari bandara ke Canggu sekitar 30 menit dengan jeda keberangkatan atau headway antar trem sekitar 10 menit—jauh lebih cepat dibanding perjalanan darat yang kerap tersendat macet.
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pembangunan ini adalah tindak lanjut dari usulan Kementerian PPN/Bappenas untuk membenahi sistem transportasi di Kabupaten Badung yang kerap lumpuh akibat kepadatan lalu lintas. Namun, ia mengingatkan pembangunan tidak boleh merusak ekosistem pariwisata Bali.
"Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati. Kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," kata Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin dalam penandatanganan kerja sama di Gedung Kertasabha, Denpasar, Selasa (1/9/2026).
Peletakan batu pertama atau groundbreaking ditargetkan pada Maret 2027. Trase pertama diproyeksikan mulai beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur Bandara–Canggu ditargetkan rampung dan beroperasi penuh setahun setelahnya, yakni 2029.
Koster menekankan penataan jalur wajib memperhatikan keberadaan hotel, fasilitas wisata, lingkungan, pemukiman, hingga tata hidup warga sekitar. "Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga. Keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," tegasnya.
Selain mengurai kemacetan, proyek ini diharapkan memperkuat konektivitas kawasan pariwisata dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi—langkah yang sejalan dengan tren transportasi berkelanjutan di destinasi wisata global.