KUPANG — Pemulihan pasca-gempa di NTT memasuki tahap baru. BNPB memastikan proses belajar mengajar kembali berjalan Senin (31/8) dengan skema yang disesuaikan kondisi bangunan sekolah di tiap kabupaten terdampak.
"Proses pembelajaran akan kembali berjalan dengan menyesuaikan kondisi masing-masing sekolah. Kami menyampaikan tentu ada proses belajar akan dimulai hari ini," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam keterangan resmi di Jakarta.
BNPB menyiapkan dua skema pembelajaran berbeda. Sekolah yang bangunannya rusak dan belum layak dipakai akan menerapkan pembelajaran jarak jauh (daring), sementara bangunan yang masih kokoh dan aman kembali digunakan untuk tatap muka.
"Tapi ketika sekolahnya masih bagus dan layak untuk digunakan, tentu ini akan digunakan secara kelas. Atau pertemuan biasa (tatap muka)," ujar Berton.
Skema ini dipilih agar aktivitas pendidikan tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan siswa dan tenaga pengajar di wilayah rawan gempa tersebut.
BNPB mencatat penurunan signifikan jumlah pengungsi berasal dari Kabupaten Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada. Secara total, 188.161 jiwa masih bertahan di pengungsian, berkurang 4.142 orang dibandingkan data sebelumnya.
Nagekeo masih menjadi wilayah dengan pengungsi terbanyak, mencapai 50.574 jiwa. Disusul Manggarai dengan 50.556 jiwa dan Manggarai Barat dengan 27.564 jiwa.
Penurunan tajam terjadi di Manggarai Timur, dari 31.372 orang pada Sabtu (29/8) menjadi 30.098 jiwa. Kabupaten Ngada juga mencatat penurunan dari 21.552 menjadi 19.394 jiwa. Adapun Sikka tercatat 5.658 jiwa dan wilayah NTT lainnya 4.317 jiwa, belum mengalami perubahan.
Pemulihan tidak hanya terjadi di sektor pendidikan. BNPB menyatakan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), listrik, dan jaringan komunikasi di wilayah terdampak telah pulih sepenuhnya. Aktivitas ekonomi warga mulai bergerak kembali setelah sempat lumpuh akibat gempa.
"Sejumlah pasar telah kembali beroperasi. Kondisi ini menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan masyarakat perlahan memasuki tahap pemulihan," kata Berton.
Dengan pulihnya infrastruktur dasar, pemerintah daerah bersama BNPB terus mendorong percepatan penanganan bagi warga yang rumahnya rusak agar segera mendapat hunian sementara yang layak.