Hands-on Gamescom 2026: Alien: Isolation 2 Menangkan Hati, Crazy Taxi Gagal Mencuri Perhatian

Penulis: Chandra Kusuma  •  Jumat, 28 Agustus 2026 | 21:47:31 WIB
Pengunjung mencoba langsung tujuh game dalam sesi tertutup di ajang Gamescom 2026, Cologne, Jerman.

NUSA TENGGARA TIMUR — Gamescom 2026 di Cologne, Jerman, menjadi ajang pembuktian bagi para pengembang game horor dan RPG. Dalam waktu terbatas di lantai pameran, saya berhasil mencoba langsung tujuh game yang akan rilis dalam 12 bulan ke depan. Satu game, Stuntman: Hollywood, tidak masuk daftar karena masih terikat embargo, meski sesi 30 menit bersama game tersebut sudah saya selesaikan.

Alien: Isolation 2: Sekuel yang Tidak Pernah Saya Harapkan

Posisi teratas tanpa perdebatan. Sebagai penggemar berat film Alien (1979) dan game pertamanya, saya sudah lama mengubur harapan akan sekuel. Prolog 30 menit yang saya mainkan di Gamescom membuktikan bahwa penantian itu sepadan.

Perubahan paling signifikan ada di setting planet, bukan lagi lorong sempit stasiun luar angkasa. Formula dasarnya tidak dirombak total, tapi atmosfer mencekam yang membuat game pertama legendaris tetap utuh. Detail paling brilian: Xenomorph di game ini adalah individu yang sama yang dilontarkan Amanda Ripley ke luar angkasa di game pertama. Koneksi naratif semacam ini yang membuat penggemar lama tersenyum puas.

Silent Hill: Townfall: Kejutan Terbesar di Gamescom

Saya tidak menyangka akan menghabiskan 90 menit penuh untuk menjelajahi St. Amelia, kota fiktif di Skotlandia yang menjadi setting game ini. Sebagai pemain asal Inggris, latar U.K. punya daya tarik tersendiri, tapi kualitas atmosfernya yang benar-benar memikat.

Keputusan Konami menetapkan cerita di tahun 1996 terbukti cerdas. Penggunaan teknologi CRT pada perangkat genggam milik protagonis Simon tidak sekadar hiasan—ia berfungsi ganda sebagai alat gameplay dan pencerita. Game ini rilis 24 September 2026, kurang dari sebulan lagi, dan berdasarkan apa yang saya mainkan, ia berpotensi menyamai kualitas Silent Hill 2 Remake.

Metro 2039: Tembakannya Mantap, Ceritanya Masih Misteri

Franchise Metro selalu dikenal karena narasinya yang kelam dan karakter yang kompleks. Tapi sesi 25 menit saya justru berfokus pada baku tembak. Hasilnya? Fantastis. Setiap tembakan shotgun terasa menghantam, dan saya mengulang misi penyerbuan markas musuh dua kali untuk mencoba pendekatan siluman dan agresif.

Yang perlu digarisbawahi: game ini dikembangkan 4A Games, tim berbasis di Ukraina yang tetap bekerja di tengah invasi Rusia. Fakta itu menambah bobot tersendiri pada kualitas yang mereka hasilkan. Narasi lengkapnya masih menjadi tanda tanya besar, tapi fondasi gameplay-nya sudah sangat menjanjikan.

Hellraiser: Revival: Paling Grafis dan Tidak untuk Semua Orang

Ini game paling brutal yang pernah saya mainkan. Bukan hiperbola—adegan-adegan di dalamnya bahkan sulit saya deskripsikan tanpa membuat pembaca mual. Saber Interactive tidak kompromi dengan kekerasan, dan itu justru setia pada akar seri filmnya.

Gameplay-nya mengambil inspirasi dari Resident Evil modern: eksplorasi orang pertama, mencari kunci dan kombinasi untuk membuka ruangan baru. Bagian akhir sesi preview bahkan terinspirasi demo PT yang legendaris. Rilis 8 Oktober 2026, game ini jelas bukan untuk semua orang—tapi justru itu daya tariknya.

Persona 4: Revival: Remake yang Tepat Sasaran

Remake RPG 2008 ini tidak mudah untuk didemokan. Sesi 60 menit saya tidak sepadan dengan total durasi bermain 100+ jam di game aslinya. Tapi karena saya sudah menyelesaikan versi original, saya bisa langsung menikmati polesan visualnya yang kini setara standar modern.

Fitur baru "Prime Time" menambah opsi di sistem pertarungan, sementara esensi karakter dan setting Inaba yang nyaman tetap dipertahankan. Rilis 18 Februari 2027, ini akan menjadi pintu masuk sempurna bagi pemain baru sekaligus alasan kuat bagi pemain lama untuk kembali.

The Witcher 3: Songs of the Past: Lebih Banyak Witcher, Tapi Kurang "Wow"

Ekspansi ketiga untuk RPG legendaris ini tidak saya mainkan langsung, melainkan lewat presentasi 50 menit. Antrean booth-nya saja sudah mencapai lima jam pada hari Kamis—bukan hari tersibuk konvensi. Tapi dari yang saya lihat, ini adalah Witcher 3 yang sama, 12 tahun setelah rilis aslinya.

Itu bukan kritik—proposisi "lebih banyak Witcher" tetap kuat. Tapi presentasi tersebut tidak memiliki momen tunggal yang membuat saya berpikir "ini alasan kenapa ekspansi ini harus ada". Saya tetap akan kembali ke game ini tahun depan, tapi ekspektasi saya sekarang lebih realistis.

Crazy Taxi: World Tour: Nostalgia 20 Tahun yang Cepat Membosankan

Kembalinya seri arcade legendaris ini setelah lebih dari dua dekade seharusnya jadi momen bahagia. The Offspring tetap ada di soundtrack, nitro boost dan drift masih seru, dan saya sempat bernostalgia mengingat versi PS2 yang dulu saya mainkan. Tapi dalam 30 menit saja, repetisi mulai terasa.

Penumpang meminta diantar ke tujuan yang sama berulang kali, dan Axel—protagonis berambut hijau—mengulang dialog yang sama terus-menerus. Crazy Taxi: World Tour tampaknya akan menjadi game yang menyenangkan untuk sesi pendek, bukan untuk maraton. Rilis 2027 di Nintendo Switch 2, PC, PS5, dan Xbox Series X/S.

Yang Perlu Diperhatikan Sebelum Membeli

Dari tujuh game yang saya mainkan, hanya Alien: Isolation 2 dan Silent Hill: Townfall yang langsung masuk daftar beli. Metro 2039 menjanjikan tapi masih butuh bukti narasi. Hellraiser: Revival sangat niche—jika kamu mudah mual dengan kekerasan ekstrem, hindari. Crazy Taxi sebaiknya ditunggu review panjang dulu sebelum memutuskan, karena potensi kebosanannya tinggi. Dan Persona 4: Revival jelas aman untuk penggemar JRPG, tapi tidak ada urgensi untuk pre-order.

Reporter: Chandra Kusuma
Sumber: tomsguide.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top