MBAY — Rombongan penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki tiba di Danga pada Jumat (28/8) dini hari. Mereka datang membawa dua mobil pikap bermuatan sembako, pakaian layak pakai, pisang, ubi, dan sayuran hasil sumbangan warga dari desa-desa terdampak.
Kepala Desa Hokeng Jaya Gabriel Bala Namang dan Kepala Desa Klatanlo Petrus Muda Kurang ikut dalam rombongan tersebut. Mereka berangkat dari huntara di Flores Timur pada Kamis (27/8) siang.
Selain barang, para relawan juga mengumpulkan dana senilai Rp15 juta dari penggalangan yang melibatkan desa-desa terdampak erupsi. "Kami dengan dua mobil pikap, muat barang bantuan. Baru sampai tadi subuh, jam 02.00 Wita," kata relawan Cornelis Fransiskus Bataona, Jumat (28/8) pagi.
Cornelis mengaku terharu melihat kondisi korban gempa yang masih bertahan di tenda darurat. Dua jam setelah tiba, mereka sempat merasakan gempa susulan berskala kecil.
Gabriel Bala Namang mengatakan aksi ini lahir dari kesadaran untuk membalas kebaikan yang pernah diterima saat erupsi Lewotobi Laki-laki meletus. "Kami menyadari begitu besar perhatian, kepedulian, dan bantuan yang datang dari saudara kita di Flores bagian barat saat kami mengalami bencana erupsi. Saat ini mereka sedang terkena musibah gempa, jadi sudah sepatutnya kami juga membantu," ujarnya.
Gabriel menegaskan bantuan ini merupakan simbol ucapan terima kasih meski kehidupan ekonomi warga di pengungsian belum sepenuhnya pulih. "Bantuan dalam jumlah yang terbatas, tetapi ini sebagai simbol ucapan terima kasih kami. Semoga dalam kondisi apapun, kita semua harus tetap punya harapan," katanya.
Adriana Goleng, warga terdampak di Danga, menyampaikan rasa terima kasihnya. "Dari tempat yang jauh, mereka rela membantu kami di sini. Puji dan syukur kepada Tuhan atas rahmat baik yang boleh kami terima lewat uluran tangan dari para penyintas erupsi Gunung Lewotobi," tuturnya.
Adriana bersama warga lainnya telah 13 hari menempati tenda darurat. Mereka mengamankan diri dari potensi gempa susulan yang masih bisa terjadi sewaktu-waktu.
Para penyintas Lewotobi juga berbagi pengalaman soal bertahan hidup di tenda selama satu tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke huntara. "Udara di sini mirip dengan kampung di Hokeng. Kami saling berbagi cerita di tenda darurat, saling menguatkan satu sama lain," tutur Cornelis.