NUSA TENGGARA TIMUR — Hasil survei Top Brand Award 2026 untuk kategori notebook atau laptop baru saja dirilis. Ini bukan sekadar daftar popularitas—indeks yang diukur mencakup kekuatan merek di benak konsumen, penggunaan aktual, hingga niat pembelian kembali. Buat kamu yang sedang riset laptop baru, data ini bisa jadi salah satu sinyal awal, meski bukan satu-satunya acuan.
ASUS memimpin dengan Top Brand Index (TBI) sebesar 25,10 persen. Posisi ini menegaskan dominasi pasar yang cukup jauh dari pesaing terdekatnya.
Acer menyusul di posisi kedua dengan selisih tipis, yaitu 21,50 persen. Artinya, jarak kedua merek ini hanya sekitar 3,6 poin persentase—cukup ketat untuk ukuran survei berskala nasional.
Di bawahnya, MacBook menempati peringkat ketiga dengan 10,00 persen, disusul HP dengan 9,80 persen dan Lenovo dengan 8,10 persen. Selisih antara peringkat kedua dan ketiga cukup mencolok, menunjukkan adanya dua kubu besar yang mendominasi preferensi konsumen Indonesia.
Posisi pertama ASUS tidak lepas dari strategi segmentasi yang agresif. Mereka punya lini yang menyasar pelajar, pekerja kantoran, hingga pengguna yang butuh perangkat untuk gaming dan pekerjaan kreatif.
Hasil survei ini mencerminkan bahwa konsumen Indonesia melihat ASUS sebagai merek yang kuat secara keseluruhan. Namun, perlu diingat: indeks ini adalah agregat dari semua lini produk. Skor tinggi tidak otomatis berarti setiap seri ASUS bagus untuk kebutuhanmu.
Dengan TBI 21,50 persen, Acer hampir menyamai ASUS. Merek ini dikenal punya portofolio yang luas—dari laptop produktivitas, pendidikan, bisnis, hingga gaming.
Posisi dua besar ini menempatkan Acer sebagai opsi yang layak dipertimbangkan serius. Jika kamu mencari alternatif dengan harga lebih agresif di kelas yang sama, Acer sering kali punya penawaran menarik.
MacBook berada di peringkat ketiga dengan 10,00 persen. Angka ini menarik karena harga rata-rata produk Apple jauh di atas kompetitor—artinya, basis penggunanya di Indonesia cukup loyal meski segmennya lebih sempit.
HP dan Lenovo melengkapi lima besar. Keduanya punya reputasi kuat di segmen bisnis dan entry-level, tapi belum berhasil menembus posisi dua besar dalam survei ini.
Data Top Brand Award ini mengukur persepsi dan loyalitas, bukan performa teknis absolut. Laptop dengan TBI tinggi belum tentu yang paling cocok untuk workload spesifikmu—misalnya editing video berat atau programming.
Selain itu, survei ini tidak mencerminkan layanan purna jual di daerah tertentu. Sebelum memutuskan, ada baiknya cek ketersediaan service center untuk merek yang kamu incar di kotamu. Faktor garansi dan kemudahan klaim sering kali lebih menentukan kepuasan jangka panjang dibandingkan selisih skor benchmark.
Terakhir, ingat bahwa harga laptop di kelas menengah ke atas kini sudah menyentuh belasan hingga puluhan juta rupiah. Gunakan data survei ini sebagai salah satu variabel, lalu bandingkan spesifikasi teknis langsung dengan kebutuhan harianmu—bukan hanya mengikuti mayoritas.