RUTENG — Perpustakaan Desa Ponggeok berhasil mengungguli 17 perpustakaan desa dan kelurahan lainnya dalam ajang Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Tingkat Kabupaten Manggarai 2026. Pengumuman pemenang dilakukan setelah melalui seleksi administrasi dan penilaian lapangan oleh tim juri independen.
Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Perpustakaan Desa Ponggeok meraih total nilai 546. Kelurahan Mbaumuku menyusul di posisi kedua dengan 542 poin, hanya terpaut empat angka. Desa Bulan menempati peringkat ketiga dengan 515 poin.
Selain tiga besar, Desa Gara, Poco Likang, dan Desa Kole juga masuk dalam enam desa terbaik. Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Manggarai, Gabriel Aldino Posenti Tjangkoeng, mengatakan lomba ini menyasar 20 desa dan satu kelurahan yang sudah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP).
Aldino mengakui respons awal peserta kurang maksimal saat pendaftaran dibuka secara daring. “Awalnya kami membuka pendaftaran melalui sistem daring, namun responsnya belum maksimal,” kata Aldino.
Pihaknya kemudian melakukan kunjungan langsung ke desa-desa untuk mengajak sekaligus membina perangkat desa agar mau mengikuti lomba. Dari total target, 18 perpustakaan desa dan kelurahan akhirnya memenuhi syarat administrasi dan mengikuti seluruh tahapan.
Setelah lolos seleksi, seluruh peserta mengikuti sosialisasi dan pembekalan di Hotel Ranaka pada 13 Juli 2026. Materi disampaikan tiga dewan juri dari Universitas Katolik Indonesia Santu Paulus Ruteng, pustakawan bersertifikat, dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai.
Penilaian berlanjut ke visitasi lapangan untuk melihat langsung kondisi perpustakaan, tata kelola, inovasi layanan, koleksi buku, hingga dampak kegiatan literasi terhadap warga desa.
Aldino menegaskan, perpustakaan desa harus lebih dari sekadar tempat meminjam buku. Menurutnya, perpustakaan bisa menjadi pusat kegiatan pemberdayaan, mulai dari pelatihan keterampilan, kerajinan tangan, hingga pengembangan usaha berbasis pengetahuan.
“Perpustakaan harus mampu mengubah masyarakat yang belum memiliki pengetahuan menjadi masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan,” tegas Aldi.
Ia juga menyoroti peran perpustakaan dalam melawan hoaks. “Perpustakaan menjadi tempat masyarakat memperoleh informasi yang benar, memiliki sumber yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak mudah terpengaruh hoaks,” ujarnya.
Benediktus Jehano, pengelola perpustakaan Desa Ponggeok yang juga Sekretaris Desa Ponggeok, mengaku bersyukur atas penghargaan ini. “Prestasi ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan agar semakin bermanfaat bagi masyarakat,” ujar Benediktus.
Aldino berharap prestasi Desa Ponggeok memacu desa lain untuk mengelola perpustakaan dengan lebih baik. “Kami siap mendampingi agar seluruh desa memiliki perpustakaan yang dikelola dengan baik,” katanya.