NUSA TENGGARA TIMUR — Banjir pasang air laut yang menerjang pesisir utara Sidoarjo sejak awal pekan lalu telah melumpuhkan aktivitas warga di lima desa. Wilayah terdampak meliputi Desa Kalanganyar, Gisik Cemandi, Banjar Kemuning, Segoro Tambak, dan Tambak Cemandi. Dari total area yang tergenang, Desa Kalanganyar mencatatkan luasan terparah dengan air merendam permukiman dan lahan produktif.
Dari 2.000 hektare wilayah yang terendam, sekitar 500 hektare tambak mengalami kerusakan berat. Air laut yang menerjang menghancurkan tanggul dan galengan, tempat ikan dan udang dibudidayakan. Kerusakan ini memaksa petambak kehilangan hasil panen sekaligus harus mengeluarkan biaya tambahan untuk perbaikan infrastruktur tambak.
"Kondisi ini menambah beban para petambak yang harus menanggung kerugian akibat hilangnya hasil budidaya sekaligus biaya perbaikan infrastruktur tambak yang rusak," demikian keterangan yang dihimpun dari petugas lapangan di Sidoarjo.
Banjir rob mulai menggenangi kawasan pesisir pada Senin (5/6) dan diperkirakan mencapai puncaknya pada Selasa (16/6). BMKG Juanda sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi pasang maksimum air laut yang dipengaruhi fase bulan purnama. BPBD Kabupaten Sidoarjo mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama pada jam-jam pasang tinggi yang biasanya terjadi pada pagi dan sore hari.
Genangan air laut tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga merendam akses jalan utama di beberapa titik. Sejumlah warga terpaksa menggunakan perahu karet untuk beraktivitas di sekitar permukiman yang terisolasi.
Pemerintah desa setempat bersama relawan kebencanaan telah mendirikan posko darurat di titik-titik strategis. Logistik seperti makanan siap saji dan air bersih mulai didistribusikan untuk warga yang rumahnya terendam. Sementara itu, Dinas Pekerjaan Umum Sidoarjo tengah mengkaji penguatan tanggul laut jangka panjang di kawasan Segoro Tambak dan Kalanganyar yang kerap menjadi langganan banjir rob setiap tahun.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa. Namun, kerugian material di sektor perikanan dan perumahan diperkirakan mencapai puluhan miliar rupiah. Warga diimbau untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas di lapangan selama masa tanggap darurat ini.