NUSA TENGGARA TIMUR — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa terjadi pada Selasa (16/6/2026) pukul 10.27 WITA dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter berada sekitar 42 kilometer arah tenggara Palu, dan getarannya terasa kuat hingga Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
BMKG memastikan gempa ini tidak berpotensi tsunami. Meski demikian, otoritas RS Anuntaloko Parigi langsung mengambil langkah evakuasi total terhadap seluruh pasien yang tengah menjalani perawatan. Proses evakuasi berlangsung cepat, melibatkan kursi roda dan tempat tidur pasien yang langsung digeser ke area terbuka.
Indriyanti, warga Parigi yang tengah berada di lokasi, mengaku masih enggan kembali ke dalam gedung meski guncangan telah berhenti. "Belum berani masuk ke ruangan. Gempa kuat sekali," ujarnya.
Kepanikan serupa terjadi di RS Samaritan Palu. Para tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga pasien berhamburan keluar gedung sesaat setelah guncangan. Halaman rumah sakit dipenuhi warga yang bertahan di luar bangunan hingga kondisi dinyatakan aman oleh petugas.
"Kami berlarian keluar karena guncangannya sangat terasa," kata Salam, warga yang berada di RS tersebut.
Hingga pukul 12.39 WITA, pasien RS Anuntaloko Parigi masih berada di selasar. Otoritas setempat belum memberikan instruksi untuk mengembalikan mereka ke ruang rawat inap. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap risiko gempa susulan yang kerap menyertai gempa utama di kawasan tektonik aktif Sulawesi.
Proses evakuasi massal di dua rumah sakit ini menunjukkan bahwa prosedur keselamatan gempa di fasilitas kesehatan telah berjalan sesuai standar. Namun, dampak psikologis terhadap pasien dan tenaga medis menjadi perhatian tersendiri pascagempa.