NUSA TENGGARA TIMUR — Bencana longsor dan banjir yang melanda hutan Batang Toru, Sumatera Utara, pada November 2025 lalu menjadi pukulan berat bagi kelangsungan hidup orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis). Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Current Biology, 10 Juni 2026, mengungkapkan 58 individu dari spesies yang baru diidentifikasi secara ilmiah pada 2017 itu tewas akibat peristiwa tersebut.
Melalui analisis citra satelit sebelum dan sesudah bencana, para peneliti menemukan longsor menghantam sekitar 8.303 hektare kawasan habitat orangutan Tapanuli. Lebih dari 50 ribu titik bekas longsoran tersebar di lanskap hutan Batang Toru.
Menurut peneliti, sebagian besar kematian orangutan diduga terjadi akibat tertimbun material longsor, tertimpa pohon tumbang, mengalami trauma fisik, hingga tenggelam saat banjir menerjang kawasan hutan. Curah hujan ekstrem mencapai 556 milimeter tercatat selama empat hari berturut-turut.
Kehilangan 58 individu tidak hanya berdampak pada jumlah populasi saat ini. Para peneliti memperingatkan bahwa kerusakan tanah akibat longsor berpotensi mengganggu ketersediaan sumber pakan dalam jangka panjang. Lapisan tanah atas yang hilang mengandung organisme penting yang mendukung pertumbuhan vegetasi hutan.
"Temuan ini sangat mengkhawatirkan bagi masa depan orangutan Tapanuli," ujar Profesor Serge Wich, ahli biologi primata dari Liverpool John Moores University yang menjadi salah satu penulis penelitian.
Orangutan Tapanuli memiliki tingkat reproduksi sangat lambat. Seekor induk umumnya hanya melahirkan satu anak setiap enam hingga sembilan tahun. Akibatnya, pemulihan populasi secara alami akan membutuhkan waktu sangat panjang.
Kelompok peneliti World Weather Attribution sebelumnya menyimpulkan bahwa intensitas Siklon Senyar diperkuat oleh kombinasi perubahan iklim akibat aktivitas manusia, fenomena Dipole Samudra Hindia negatif, dan La Niña. Para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di berbagai wilayah dunia, termasuk Indonesia, diperkirakan meningkat.
Berdasarkan estimasi pada 2019, populasi orangutan Tapanuli hanya berjumlah sekitar 767 individu. Sekitar 581 individu di antaranya hidup di blok barat hutan Batang Toru, kawasan yang paling terdampak Siklon Senyar. Kehilangan 58 individu setara dengan 11 persen populasi di blok barat.
Bagi para peneliti, bencana di Batang Toru menjadi peringatan bahwa ancaman terhadap satwa langka tidak lagi hanya berasal dari hilangnya habitat dan aktivitas manusia. Dampak perubahan iklim yang semakin nyata kini menjadi ancaman langsung dan sangat serius bagi spesies yang sudah berada di ambang kepunahan.