KUPANG — Korosi akibat alam menjadi ancaman diam-diam bagi keandalan listrik di Nusa Tenggara Timur. Temuan karat pada komponen menara transmisi itu mendorong petugas PLN untuk bertindak cepat. Bagaikan dokter yang mendeteksi penyakit sejak dini, mereka langsung mengganti komponen yang menua sebelum menjadi sumber gangguan besar.
Dari hasil inspeksi rutin, tim ULTG Kupang menemukan isolator dan stringset pada Fasa R dan Fasa S di Tower 06 sudah berkarat. Komponen ini merupakan bagian vital dari saluran transmisi yang menghubungkan sumber energi ke pusat kota. Jika dibiarkan, karat bisa memicu korsleting dan pemadaman massal di Pulau Timor.
Sebelum memanjat menara, seluruh personel menggelar briefing keselamatan kerja (K3). Prosedurnya berlapis: aliran arus pada jalur Panaf–Bolok dipadamkan, lalu diuji dengan voltage detector, dan baru dipasang grounding lokal. "Kami menyatukan hati, fokus, dan kepatuhan pada prosedur K3. Alhamdulillah, pekerjaan menantang ini berjalan aman dan efektif," ujar Pengawas Pekerjaan, Yoga Aditya Rahman.
General Manager PLN Unit Induk Wilayah (UIW) NTT, F. Eko Sulistyono, menekankan sisi kemanusiaan dari pekerjaan ini. "Ketika petugas kami naik ke atas tower, yang ada di pikiran mereka bukan sekadar memperbaiki besi yang berkarat, melainkan menjaga agar anak-anak di NTT bisa belajar dengan terang yang cukup, dan para ibu bisa memasak dengan tenang," tuturnya.
Manager UPT Kupang, Muhammad Husen, menambahkan bahwa jalur transmisi adalah urat nadi utama. "Secara konsisten kami merawat infrastruktur ini agar selalu dalam kondisi prima. Kami ingin masyarakat tahu bahwa PLN selalu siap siaga menjaga kenyamanan mereka," ungkapnya.
Setelah komponen baru terpasang dan semua dinyatakan aman, aliran listrik kembali dinormalisasi. Daya mengalir lagi ke seluruh penjuru kota, memastikan keceriaan di rumah-rumah warga dan detak alat medis di rumah sakit tetap berjalan tanpa kedip.