TIMOR TENGAH SELATAN — Kampung Noemuke yang berada di pelosok Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) kini tidak lagi gelap gulita saat malam tiba. Sebanyak 149 kepala keluarga di kampung tersebut resmi menikmati layanan listrik negara selama 24 jam non-stop, sebuah lompatan besar dari kondisi sebelumnya yang hanya mengandalkan lampu pelita atau genset terbatas.
Sebelum program ini masuk, warga Noemuke harus menahan gelap selepas pukul 18.00 Wita. Anak-anak belajar di bawah cahaya lampu minyak tanah, sementara aktivitas ekonomi warga terhenti begitu matahari tenggelam. Kini, stop kontak di setiap rumah telah dialiri listrik dari jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN).
“Saya tidak pernah membayangkan bisa menyalakan kulkas atau TV di rumah. Sekarang anak-anak bisa belajar malam hari dengan terang,” ujar salah satu warga setempat dalam keterangan yang diterima media.
Proyek penerangan ini bukan sepenuhnya gratis. Pemerintah daerah melalui Dinas Pertambangan dan Energi NTT memfasilitasi skema pembiayaan bersama. Setiap keluarga dikenakan biaya partisipasi awal yang terjangkau, sementara sisanya disubsidi oleh APBD dan dana desa.
Instalasi jaringan listrik di medan berbukit Noemuke memakan waktu berbulan-bulan. Material tiang listrik dan kabel harus diangkut manual oleh warga karena akses jalan yang sempit dan terjal.
Dampak paling langsung terasa di sektor ekonomi mikro. Warung-warung kelontong di kampung kini bisa buka hingga larut malam. Beberapa warga mulai merencanakan usaha kecil berbasis listrik, seperti menjalankan mesin penggiling kopi atau membuka jasa pengisian ulang baterai ponsel.
“Dulu kalau mau ngecas HP harus jalan kaki dua kilometer ke kampung tetangga yang punya genset. Sekarang di rumah sendiri bisa,” tambah warga lainnya.
Kampung Noemuke masuk dalam kategori daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) di NTT. Selama bertahun-tahun, medan geografis yang sulit dan jumlah penduduk yang relatif kecil membuat investasi infrastruktur listrik dianggap tidak ekonomis oleh penyedia jasa. Baru setelah pemerintah daerah mendorong program listrik perdesaan berbasis partisipasi masyarakat, proyek ini terealisasi.
Kepala Dinas Pertambangan dan Energi TTS menyebut keberhasilan ini sebagai pilot project. Ke depan, skema serupa akan diterapkan di kampung-kampung lain yang masih gelap di wilayah tersebut.
Program penerangan di Noemuke menjadi bukti bahwa keterpencilan bukan lagi alasan untuk menikmati infrastruktur dasar. Pemerintah Kabupaten TTS menargetkan rasio elektrifikasi mencapai 100 persen dalam dua tahun ke depan. Kampung-kampung yang masih menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) terbatas akan diprioritaskan untuk mendapatkan pasokan dari jaringan utama PLN.
Bagi warga Noemuke, terang yang kini menyala 24 jam bukan sekadar listrik. Ini adalah simbol bahwa negara hadir di sudut paling sunyi Nusa Tenggara Timur.