KUALA LUMPUR — Otoritas Malaysia mencatat total 39 orang berada di atas kapal yang tenggelam di perairan Pulau Pangkor, Perak. Tim penyelamat dari Badan Penegakan Maritim Malaysia (MMEA) berhasil mengevakuasi 23 orang dalam kondisi selamat, sementara 16 lainnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.
Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah, mengonfirmasi bahwa para korban selamat berasal dari delapan provinsi. Mereka adalah warga Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Lampung, Banten, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Tenggara.
Sebagian besar penumpang kapal nahas itu diduga merupakan pekerja migran Indonesia yang hendak masuk ke Malaysia melalui jalur tidak resmi. Kecelakaan laut yang melibatkan pekerja migran ilegal masih kerap terjadi di kawasan Asia Tenggara.
Faktor cuaca buruk, kelebihan muatan, serta penggunaan kapal kecil yang tidak laik operasi menjadi penyebab utama tingginya risiko kecelakaan di jalur laut ilegal. Tragedi serupa sebelumnya juga pernah terjadi di sejumlah wilayah perairan Indonesia dan Malaysia.
Hingga berita ini diturunkan, tim penyelamat dari MMEA terus melakukan penyisiran di sekitar lokasi tenggelamnya kapal. Langkah ini diambil untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum ditemukan.
Para korban selamat saat ini mendapatkan perawatan medis dan pendampingan dari pihak otoritas setempat. Pemerintah Indonesia melalui perwakilan diplomatik di Malaysia terus berkoordinasi dengan otoritas setempat untuk proses identifikasi korban dan pemulangan jenazah.
Kementerian Luar Negeri RI menyebut pihaknya terus berkoordinasi intensif dengan otoritas Malaysia. Proses identifikasi korban menjadi prioritas utama sebelum jenazah dipulangkan ke Indonesia.
Para korban selamat juga mendapatkan pendampingan dari perwakilan RI di Malaysia. Pemerintah berjanji akan memfasilitasi pemulangan mereka ke daerah asal masing-masing setelah proses administrasi selesai.