KUPANG — Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Nusa Tenggara Timur menyambut baik dukungan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) dalam memperkuat konservasi laut dan pengelolaan sumber daya pesisir berkelanjutan di NTT. Plt Kepala DKP NTT Stafania Tanggu Boro di Kupang, Rabu, menilai dukungan tersebut penting mengingat NTT merupakan provinsi kepulauan dengan wilayah laut yang luas.
Menurutnya, dukungan YKAN dalam perlindungan keanekaragaman hayati, pengelolaan perikanan berkelanjutan, adaptasi perubahan iklim, perlindungan kawasan konservasi, serta penguatan penghidupan masyarakat pesisir sejalan dengan visi pembangunan daerah.
Laut Bukan Sekadar Ruang Geografis bagi Warga NTT
Bagi masyarakat NTT, laut memiliki peran yang jauh lebih dalam dari sekadar ruang geografis. Stafania menyebut laut menjadi sumber pangan, mata pencaharian, ruang sosial dan budaya, serta modal pembangunan daerah.
"Kami menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi kepada YKAN atas dukungannya terhadap konservasi laut di wilayah NTT," katanya.
Kolaborasi Jadi Kata Kunci Hadapi Tantangan Pengelolaan Laut
Stafania menekankan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan pengelolaan laut. Tekanan terhadap ekosistem, perubahan iklim, kesejahteraan masyarakat pesisir, pemanfaatan ruang laut, hingga pengawasan wilayah perairan menjadi persoalan kompleks yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
"Kata kunci yang ingin saya tekankan pada kesempatan ini adalah kolaborasi," ujarnya.
DKP NTT membutuhkan dukungan perguruan tinggi dan lembaga penelitian, mitra pembangunan, organisasi masyarakat sipil, dunia usaha, serta masyarakat sebagai pelaku utama sekaligus penjaga sumber daya kelautan.
Sosialisasi Program Konservasi di Laut Sawu Jadi Momentum Peluang Kolaborasi
Stafania menilai sosialisasi berbagai program konservasi yang dilakukan YKAN di Laut Sawu menjadi momentum penting untuk melihat peluang kolaborasi yang dapat memperkuat pelaksanaan program di lapangan.
"Kami perlu mencermati dengan saksama untuk melihat potensi kolaborasi yang mungkin dapat dilakukan guna memperkuat kualitas dan kuantitas implementasi program di tingkat lapangan sesuai tugas pokok dan fungsi kita masing-masing," tambahnya.
Pengelolaan laut berkelanjutan, lanjut Stafania, tidak dapat dilakukan secara eksklusif. Diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, lembaga riset, akademisi, kelompok nelayan, pelaku usaha, dan mitra pembangunan agar program konservasi berjalan efektif dan berdampak langsung bagi masyarakat pesisir.