JAKARTA — Duka mendalam menyelimuti Nusa Tenggara Timur pascagempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,7 yang meluluhlantakkan sejumlah wilayah. Data terbaru Pos Pendamping Nasional BNPB per Sabtu (22/8/2026) menyebutkan korban meninggal dunia telah mencapai 87 jiwa, sementara 150.576 warga masih bertahan di lokasi pengungsian.
Angka korban jiwa ini diperkirakan masih akan bertambah seiring proses evakuasi yang terus dilakukan tim gabungan di tujuh kabupaten terdampak. Gelombang gempa utama yang terjadi pada pekan lalu itu diikuti oleh ratusan gempa susulan yang membuat warga tak berani kembali ke rumah.
Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa tertinggi, yakni 31 orang, disusul Manggarai Timur dengan 30 korban jiwa. Data BNPB merinci korban meninggal lainnya tersebar di Kabupaten Nagekeo sebanyak 13 jiwa, Sikka 9 jiwa, Ngada 4 jiwa, Ende 2 jiwa, dan Manggarai Barat 1 jiwa.
Selain korban jiwa, dampak gempa juga menyebabkan 1.298 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 336 orang di antaranya menderita luka berat dan harus mendapatkan perawatan intensif di fasilitas kesehatan darurat. Mayoritas korban luka terkonsentrasi di Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 5.012 gempa susulan terjadi hingga Jumat (21/8/2026) pagi. Dari total tersebut, 124 kali gempa susulan dirasakan langsung oleh masyarakat dengan intensitas yang cukup kuat.
Tingginya frekuensi gempa susulan menjadi alasan utama warga enggan meninggalkan posko pengungsian. "Jumlah pengungsi sementara tercatat mencapai 150.576 jiwa yang tersebar di tujuh kabupaten terdampak," tulis Pos Pendamping Nasional BNPB dalam rilis resminya, dikutip Minggu (23/8/2026).
Pemerintah daerah bersama TNI-Polri dan relawan masih fokus melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan. Logistik berupa makanan siap saji, air bersih, serta tenda pengungsian terus didistribusikan ke titik-titik pengungsian yang tersebar di wilayah pesisir dan dataran tinggi.
Kepala Pos Pendamping Nasional BNPB mengimbau warga yang tinggal di lereng perbukitan untuk tetap waspada terhadap potensi tanah longsor susulan. Getaran gempa yang terus berulang dikhawatirkan dapat memicu pergerakan tanah di sejumlah kecamatan yang berada di zona merah.
Tim tanggap darurat juga masih kesulitan menjangkau beberapa desa terpencil di Kabupaten Manggarai Timur akibat akses jalan yang terputus. Alat berat dikerahkan untuk membuka jalur logistik agar bantuan dapat segera sampai ke warga yang membutuhkan.