NUSA TENGGARA TIMUR — Keputusan Sony untuk mengucapkan selamat tinggal pada cakram Blu-ray game PlayStation bukan sekadar wacana. Pada 1 Juli lalu, perusahaan asal Jepang itu mengonfirmasi bahwa seluruh rilis game untuk konsol PlayStation, baik first-party maupun third-party, akan sepenuhnya digital mulai awal 2028. Bahkan opsi penjualan fisik berupa kotak berisi kode redeem di toko ritel juga dihapuskan.
Langkah ini jelas mengubah cara komunitas gamer Indonesia mendapatkan game. Namun di balik kekhawatiran soal kepemilikan digital, ada potensi keuntungan yang jarang dibahas: harga game yang lebih murah.
Jacob Navok, mantan direktur business development Square Enix yang kini menjabat CEO Genvid, membedah logika di balik dinamika harga ini. Menurutnya, persaingan antar publisher adalah kunci utama yang menekan harga, bukan persaingan antar toko digital seperti Steam dan Epic Games Store.
"Persaingan antara toko seperti EGS dan Steam meningkatkan persentase pendapatan (take rate) untuk developer, tetapi tidak serta-merta menekan harga untuk pemain," tulis Navok di akun X/Twitter-nya, Kamis (13/8/2026).
Argumennya sederhana: publisher yang menentukan harga di toko digital, bukan platformnya. Ketika semua game tersedia di satu etalase digital tanpa opsi fisik, kompetisi antar judul menjadi lebih transparan dan agresif. Konsumen bisa dengan mudah membandingkan harga dan berpindah ke judul lain yang lebih murah.
Navok menyebut pola penurunan harga yang terjadi di Steam sebagai bukti nyata. Ia mencontohkan grafik harga Final Fantasy 16 di platform Valve tersebut yang perlahan turun seiring waktu karena tekanan kompetisi langsung dengan judul-judul lain.
"Semakin PlayStation Store menjadi digital-only, tren ini akan semakin cepat terjadi. Kamu akan melihat lebih banyak diskon dan penetapan harga dinamis seperti di Steam karena publisher akan bersaing lebih ketat di antara mereka sendiri," prediksi Navok.
Bagi pemain di Indonesia yang selama ini menunggu momen diskon besar di PlayStation Store, kebijakan ini bisa menjadi angin segar. Pola penurunan harga yang bertahap, mirip siklus sale Steam, berpotensi menjadi standar baru di ekosistem PlayStation.
Kendati harga berpotensi turun, kebijakan ini tetap menyisakan persoalan serius. Isu hak kepemilikan digital (digital ownership) menjadi momok utama. Gamer tidak lagi bisa meminjamkan, menjual, atau sekadar memiliki koleksi fisik yang bisa bertahan puluhan tahun. Semua akses bergantung penuh pada layanan server Sony.
Bagi kolektor atau pemain yang tinggal di area dengan koneksi internet tidak stabil, hilangnya opsi fisik adalah pukulan telak. Tidak ada lagi jalan mundur untuk sekadar memasang cakram dan langsung bermain tanpa proses unduh besar-besaran.
Sony sendiri tampaknya tak bergeming. Peringatan resmi soal penghentian dukungan media fisik pada 2028 kini sudah tercetak di kotak penjualan konsol PS5 edisi disc drive. Keputusan ini sudah final dan komunitas gamer global, termasuk Indonesia, harus bersiap dengan era baru yang sepenuhnya digital.