KUPANG — Pengawasan kawasan konservasi seluas 3,35 juta hektare tidak bisa lagi mengandalkan patroli manual semata. Karena itu, BPK Kupang dan YKAN meluncurkan program uji coba teknologi monitoring yang mampu menjangkau area seluas 1.400 kilometer dan mendeteksi suara mamalia laut secara otomatis.
Kepala BPK Kupang Imam Fauzi mengatakan, luas TN Laut Sawu yang melebihi perairan wilayah lain di Indonesia membuat proses monitoring konvensional tidak efektif. Petugas yang biasa menyelam untuk mendata biota laut kini bisa terbantu dengan kehadiran perangkat otonom.
"Kawasan Taman Nasional Laut Sawu merupakan kawasan yang sangat luas dibandingkan dengan perairan wilayah lain di Indonesia, tentunya untuk melakukan monitoring butuh tenaga karena itu saat ini bersama YKAN sudah ada alatnya yang bisa digunakan untuk memonitoring," katanya di Kupang, Rabu.
Teknologi pertama bernama Havoc-Rampange, sebuah drone kapal atau wahana permukaan otonom. Alat ini digerakkan oleh listrik dari panel surya terintegrasi dan dirancang untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi dalam skala besar.
Officer In Charge (OIC) Manager YKAN Wildan menjelaskan, jangkauan Havoc-Rampange mencapai 1.400 kilometer. Kemampuan ini memungkinkan proses monitoring menjangkau area yang lebih luas dibandingkan metode lama.
"Fungsinya adalah mendukung pengelolaan kawasan konservasi dalam skala besar. Jangkauannya juga bisa mencapai 1.400 kilometer sehingga lebih luas proses monitoringnya," tambah dia.
Selain memetakan wilayah, Havoc-Rampange mampu mendeteksi kehadiran dan distribusi mamalia laut besar seperti paus, lumba-lumba, dan dugong. Data yang dikumpulkan dapat dikirim secara real-time sebagai dasar pengambilan keputusan berbasis data.
Sementara itu, teknologi kedua bernama Blueoasis-Hydrotwin. Perangkat ini bekerja dengan mengubah suara di dasar laut menjadi informasi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu proses identifikasi.
"Jadi bisa memastikan apakah suara yang didengar itu suara mamalia laut, atau suara kapal," ujar Wildan.
Imam Fauzi menambahkan, data yang dihimpun kedua alat tersebut nantinya langsung dikirim ke Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta. Hal ini diharapkan mempercepat respons terhadap potensi ancaman di kawasan konservasi.
Pemasangan Havoc-Rampange dijadwalkan berlangsung pada akhir September, disusul Blueoasis-Hydrotwin pada akhir Oktober 2026. Kedua lokasi pemasangan berada di perairan TN Laut Sawu, NTT.