NUSA TENGGARA TIMUR — Sutradara Fatih Akin kembali dengan Ghost Song, romansa supernatural yang membuka San Sebastian Film Festival tahun ini. Film ini mengisahkan dua anak muda berusia 20 tahun yang menjalin cinta melintasi batas hidup dan mati, dibintangi Mariam Dawoud dan Eren M. Guvercin. Ghost Song disebut-sebut sebagai hommage bergaya Gen Z untuk Wings of Desire karya Wim Wenders.
Fatih Akin sudah lama dikenal sebagai sineas Jerman-Turki yang lincah berpindah genre. Setelah puncak kariernya lewat Head-On dan Edge of Heaven pada pertengahan 2000-an, ia sempat mencetak sukses komersial lewat In the Fade bersama Diane Kruger dan biopik hip-hop Rhinegold. Kini ia kembali dengan pendekatan berbeda.
Ghost Song tayang perdana sebagai film pembuka San Sebastian Film Festival tahun ini. Akin menggarapnya sebagai romansa supernatural yang menyasar penonton muda, lengkap dengan adaptasi novel grafis yang ia kerjakan bersama seniman Bea Davies.
Sinopsis: Cinta Farasha dan Faris Melintasi Kematian
Farasha (Mariam Dawoud) adalah pengungsi Suriah yang menetap di Hamburg bersama keluarganya setelah sempat singgah di Turki. Ia memilih mengenakan hijab, tetapi menjalani hidup sebagai perempuan modern dan mandiri, mengikuti jejak ayahnya yang telah wafat dengan menekuni studi fisika di universitas.
Di sebuah pesta kelulusan di menara Telemichel, Farasha bertemu Faris (Eren M. Guvercin), pemuda Muslim kelahiran Jerman keturunan Turki. Keduanya langsung terhubung. Bersama sahabat Farasha, Una (Carlotta von Falkenhayn), mereka memutuskan melanjutkan pesta di tempat lain dan naik ke mobil Faris.
Kecelakaan terjadi. Mobil mereka terjun ke Sungai Elbe. Faris terbangun di rumah sakit dan mendapati Farasha telah tenggelam, sementara polisi menunggu untuk bertanya. Farasha sendiri bangun dengan cara berbeda: ia masih bisa berjalan di bumi, tetapi tak seorang pun bisa melihat atau mendengarnya.
Sang ayah menjadi satu-satunya yang bisa menjangkaunya. Ia memberi tahu Farasha bahwa selama 40 hari, sesuai masa berkabung dalam tradisi Muslim tertentu, ia bisa mengunjungi orang-orang hidup melalui mimpi. Masih dilanda cinta dan belum sepenuhnya menerima kematiannya, Farasha memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama Faris.
Gaya Visual Hitam-Putih dan Bayangan Wim Wenders
Keputusan Akin mengambil gambar sepenuhnya dalam hitam-putih pekat, dengan latar ikonik kota besar Jerman, langsung mengundang perbandingan dengan Wings of Desire karya Wim Wenders. Film Akin berperan sebagai hommage berlatar Hamburg untuk klasik Berlin tersebut, kali ini dengan fokus pada generasi Z.
Perbandingan itu tidak selalu menguntungkan Ghost Song yang lebih tipis dan kurang liris. Namun kemiripan visual ini mudah dijual ke pasar, sementara Ghost Song menegaskan identitasnya sendiri lewat ekspresi iman Muslim yang dipertanyakan dan ditafsirkan oleh karakter mudanya yang multikultural.
Sinematografer Frank Griebe, yang biasa bekerja dengan Tom Tykwer, untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan Akin. Ia mengubah sudut-sudut Hamburg yang kurang elok menjadi taman bermain cinta penuh kontras cahaya dan bayangan. Bahkan monumen brutalist terasa intim, setara dengan kamar tidur gelap biasa.
Kritik: Romansa yang Tulus tapi Kurang Dalam
Ghost Song berdiri di atas premis bahwa dalam satu malam, Farasha dan Faris membangun koneksi jiwa yang begitu dalam hingga kematian pun tak mampu memutuskannya. Gagasan itu sangat romantis, tetapi tidak sepenuhnya didukung oleh karakter-karakter yang terasa pucat, meski para aktor mudanya karismatik.
Naskah Akin yang naif dan sedikit berlebihan terus mengulang pengabdian kedua tokoh satu sama lain. Ketegangan dibangun dari pertanyaan siapa yang akhirnya akan berkorban lebih besar, tetapi film ini minim pembahasan spiritual atau filosofis yang berbobot.
Yang lebih menyentuh justru penggambaran keluarga Farasha di tengah mimpi buruk ini. Adegan ketika Farasha menyaksikan keluarganya membersihkan dan merawat jenazahnya secara ritual menjadi momen paling berlapis dan menghantui sepanjang film.
Saat film mulai tergelincir ke permukaan atau kitsch, ia bisa bersandar pada suasana mewah dan kekayaan visual layar lebarnya. Menjadi hantu jarang terlihat seindah ini di layar. Kartu judul berilustrasi warna-warni memecah monokrom tajam, begitu pula momen menjelang kredit penutup, saat dunia para karakter banjir warna menjelang pilihan hidup atau mati yang krusial.
Ghost Song menegaskan bahwa Akin masih ingin bereksperimen di wilayah baru, meski kali ini hasilnya lebih menarik secara visual ketimbang naratif. Bagi penonton Indonesia yang menantikan karya sineas festival Eropa, film ini layak masuk daftar pantau jadwal tayangnya.