KUPANG — Suasana sakral menyelimuti kediaman keluarga besar Mans Betekeneng di Jalan P. Da Cunha, Naikoten Dua, saat prosesi peminangan beda negara berlangsung. Danijel Devetak, warga negara Kroasia, meminang Angelika Maria Sangaji Betekeneng atau Enjel melalui serangkaian tata cara adat NTT yang kental.
Rombongan keluarga pria memasuki halaman rumah dengan iringan gong dan tarian adat Lamaholot. Dalam prosesi ini, Danijel didampingi oleh Linus Lusi sebagai perwakilan keluarga di Kupang, serta Elvis B. Toni yang bertindak sebagai juru bicara pihak laki-laki.
Dialog Adat Bilingual Menggunakan Bahasa Inggris dan Indonesia
Salah satu keunikan dalam prosesi ini adalah penggunaan dua bahasa dalam dialog adat. Selain Bahasa Indonesia, penuturan tutur adat juga disampaikan dalam Bahasa Inggris agar Danijel Devetak dapat memahami makna filosofis dari setiap tahapan peminangan yang ia jalani.
Pihak keluarga perempuan, yang diwakili oleh Marianus Kleden bersama keluarga besar Ileape, menyambut rombongan dengan penghormatan penuh. Meski terdapat perbedaan bahasa, suasana tetap cair dengan sesekali muncul tawa kecil saat proses penerjemahan berlangsung di tengah kekhidmatan acara.
Perjumpaan Tradisi Lamaholot Ileape dan Budaya Alor
Peminangan ini tidak sekadar menyatukan dua insan, tetapi juga menjadi titik temu dua budaya besar di Nusa Tenggara Timur. Keluarga Betekeneng membawa nuansa adat Lamaholot Ileape yang menekankan penghormatan kepada leluhur dan keluarga besar.
Di sisi lain, pihak calon mempelai pria menggunakan pendekatan budaya Alor dalam tata cara penyampaian maksud peminangan. Elvis B. Toni sebagai juru bicara pihak laki-laki menyampaikan tutur kata dengan tenang, sementara Marianus Kleden merespons setiap poin adat dengan bahasa yang bijak.
Sejumlah tokoh masyarakat dan tokoh adat Lamaholot Ileape terpantau hadir dalam acara ini. Di antaranya adalah Pieter Manuk, Daniel Hurek, Lamber Hurek, serta Theo Widodo yang ikut menyaksikan prosesi di ruang tamu utama.
Prosesi Ditutup dengan Misa Pemberkatan Cincin
Setelah seluruh rangkaian adat dan penyerahan simbol kekeluargaan selesai, kedua keluarga besar berbaur di bawah tenda utama. Acara yang dipandu oleh Erens Mahodim ini berlangsung tertib dengan nuansa kekeluargaan yang erat antara keluarga Betekeneng dan keluarga Nahak.
Menjelang malam, rangkaian acara diakhiri dengan misa pemberkatan cincin pertunangan. Ibadah ini dipimpin oleh RD Konrad Takene sebagai tanda keseriusan kedua mempelai untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
Melalui prosesi di rumah sederhana kawasan Naikoten Dua ini, kedua keluarga membuktikan bahwa perbedaan negara dan bahasa bukan penghalang. Penghormatan terhadap adat istiadat setempat justru menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antarbudaya tersebut.