Pencarian

Dandy Laksono Hadiri Diskusi Film Pesta Babi di Labuan Bajo

Rabu, 06 Mei 2026 • 20:22:30 WIB
Dandy Laksono Hadiri Diskusi Film Pesta Babi di Labuan Bajo
Dandy Laksono hadir sebagai narasumber dalam diskusi film "Pesta Babi" di Labuan Bajo.

LABUAN BAJO — Kelompok masyarakat sipil di Kabupaten Manggarai Barat memperluas ruang diskusi mengenai isu agraria melalui pemutaran film dokumenter "Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita". Kegiatan yang akan berlangsung di kompleks Gereja Katedral Keuskupan Labuan Bajo ini melibatkan kolaborasi antara Sunspirit for Justice and Peace dengan JPIC SSpS Flores Barat.

Dua sutradara film tersebut, Dandy Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale, dipastikan menjadi narasumber utama. Dandy akan hadir langsung menemui audiens di lokasi, sementara Cypri dijadwalkan bergabung melalui sambungan daring untuk membedah karya yang memotret kondisi masyarakat adat di Papua Selatan tersebut.

Panitia menargetkan kehadiran sekitar 200 peserta dari kalangan pelajar, mahasiswa, hingga rohaniwan. Kehadiran film ini di Labuan Bajo merupakan kali kedua setelah sebelumnya sempat difasilitasi oleh Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) pada akhir April lalu.

Bedah Dampak Proyek Strategis Nasional di Papua Selatan

Dokumenter "Pesta Babi" merekam secara mendalam perlawanan masyarakat suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu. Mereka berhadapan dengan ekspansi proyek biodiesel sawit dan bioetanol tebu yang masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Film ini menyingkap bagaimana investasi skala besar sering kali berbenturan dengan ruang hidup komunitas lokal.

Melalui riset investigatif, karya ini memperlihatkan keterkaitan antara kepentingan industri, dinamika politik, dan jejak operasi militer di wilayah konflik. Isu separatisme juga turut dibahas sebagai bagian dari kompleksitas eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di tanah Papua.

Selain para sutradara, diskusi ini mempertemukan perspektif aktivis dan masyarakat adat. Suster Frederika Tanggu Hana dari JPIC SSpS Flores Barat akan hadir sebagai pembicara mewakili aktivis perempuan, didampingi Yosef Erwin Rahmat yang merupakan tokoh masyarakat adat dari Desa Wae Sano.

Mendorong Solidaritas dan Kesadaran Kritis Pemuda Flores

Ketua panitia kegiatan, Adriani Miming, menjelaskan bahwa krisis ekologis dan konflik agraria bukan hanya persoalan di Papua, melainkan ancaman nyata bagi banyak wilayah di Indonesia, termasuk Nusa Tenggara Timur. Melalui film ini, publik diharapkan mampu melihat pola ekstraktivisme yang berdampak langsung pada masyarakat lokal.

“Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bersama yang mendorong solidaritas dan kesadaran kritis, sehingga ada keberpihakan nyata terhadap masyarakat adat, termasuk di Flores,” jelas Adriani Miming.

Acara yang dipandu oleh Elisa Lehot dari Forum Titik Temu Masyarakat Sipil Flores ini juga akan diperkaya dengan dimensi seni. Sejumlah siswa dari SMAK St. Ignatius Loyola Labuan Bajo dijadwalkan menampilkan pementasan teater sebagai bentuk respons kreatif terhadap isu-isu sosial yang diangkat dalam diskusi tersebut.

Bagikan
Sumber: floresa.co

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks