KUPANG — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai membedah draf buku refleksi penanganan Siklon Tropis Seroja sebagai fondasi penguatan literasi kebencanaan daerah. Dokumen ini merangkum evaluasi menyeluruh terhadap sistem komando darurat yang pernah diterapkan saat bencana besar melanda wilayah tersebut pada 2021 silam.
Kegiatan diskusi yang berlangsung di Kupang pada Selasa ini memfokuskan pada draf buku berjudul "Belajar tentang Bencana di Tengah Bencana". Buku tersebut merekam operasional Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) yang menjadi tulang punggung respons pemerintah saat badai menghantam.
Mengapa Evaluasi Seroja Harus Dilakukan Secara Jujur?
Editor buku sekaligus Manajer Program SIAP SIAGA Wilayah NTT, Silvia Fanggidae, menegaskan bahwa narasi dalam buku ini disusun tanpa menutupi kekurangan yang terjadi di lapangan. Kejujuran data menjadi kunci agar proses pembelajaran bagi pemerintah dan masyarakat berjalan efektif.
“Karena tujuannya adalah belajar, maka buku ini bersifat jujur. Ia menceritakan apa yang benar-benar terjadi, termasuk kritik, refleksi, hingga kebingungan yang dialami saat itu untuk dipelajari bersama,” ujar Silvia saat memaparkan progres buku yang kini mencapai tahap 95 persen tersebut.
Penyusunan naskah memakan waktu sekitar satu tahun melalui proses verifikasi yang ketat, mulai dari wawancara mendalam hingga diskusi kelompok terfokus (FGD). Silvia menyebut buku ini merekam bagaimana empati dan tanggung jawab birokrasi berjalan beriringan di tengah situasi darurat yang penuh tekanan.
Mendorong Sistem Penanggulangan Bencana yang Lebih Responsif
Asisten Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi NTT, Yohanes Oktovianus, menyatakan bahwa forum bedah buku ini bukan sekadar seremonial, melainkan ruang strategis untuk merumuskan langkah penanganan bencana yang lebih terkoordinasi di masa depan.
“Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk melihat kembali apa yang belum berhasil dilakukan, mengevaluasi berbagai tantangan yang dihadapi, serta merumuskan langkah strategis agar penanganan bencana ke depan semakin cepat, terkoordinasi, tangguh, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat,” kata Yohanes.
Pemerintah berharap dokumentasi ini menjadi warisan pengetahuan bagi generasi mendatang. Dengan merekam praktik baik dan inovasi yang muncul saat krisis, NTT diharapkan memiliki kesiapan lebih matang saat menghadapi ancaman hidrometeorologi serupa.
Kolaborasi Indonesia-Australia dalam Program SIAP SIAGA
Inisiatif penulisan buku ini merupakan buah kolaborasi antara BPBD Provinsi NTT dengan Program SIAP SIAGA. Program tersebut merupakan kemitraan antara pemerintah Australia dan Indonesia yang secara khusus menyasar penguatan sistem penanggulangan bencana di tingkat daerah.
Mengingat kembali peristiwa beberapa tahun lalu, Siklon Tropis Seroja pada 4-5 April 2021 tercatat sebagai salah satu bencana hidrometeorologi paling destruktif dalam sejarah NTT. Skala kerusakan yang masif saat itu menuntut adanya evaluasi mendalam terhadap prosedur tetap (protap) penanganan darurat yang ada.
Melalui forum ini, Pemprov NTT mengundang berbagai pihak untuk memperkaya substansi buku sebelum nantinya dipublikasikan secara luas. Fokus utamanya adalah memastikan setiap pengalaman lapangan dan tantangan teknis terdokumentasi secara utuh sebagai rujukan kebijakan publik ke depan.