NUSA TENGGARA TIMUR — Lima geopark Indonesia—Belitong, Merangin Jambi, Ijen, Raja Ampat, dan Maros-Pangkep—meraih Green Card UNESCO pada Sidang ke-11 Dewan UNESCO Global Geoparks di Paris, 2–4 November 2026. Bojonegoro lolos sebagai UNESCO Global Geopark baru, sementara Geopark Ranah Minang Silokek diberi waktu dua tahun melengkapi rekomendasi. Status ini relevan bagi traveler yang ingin menjadikan geopark sebagai tujuan wisata berbasis konservasi.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana menyebut pengakuan UNESCO bukan sekadar penghargaan internasional, melainkan tanggung jawab bersama untuk menjaga kekayaan alam, geologi, dan budaya Indonesia. Ia menekankan status geopark dunia harus dirawat lewat tata kelola kuat, konservasi nyata, dan pelibatan masyarakat lokal.
Dari lima penerima Green Card, Belitong punya jalan panjang. UGGp yang ditetapkan 15 April 2021 itu sempat menerima Yellow Card pada revalidasi 2024, lalu memperbaiki diri selama dua tahun. Fokus pembenahannya: komersialisasi Batu Satam dan standar konservasi penyu.
Pemerintah Kabupaten Belitung dan Belitung Timur menerbitkan edaran larangan komersialisasi Batu Satam. Konservasi penyu kini dipusatkan di Pulau Cina yang dikelola Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dalam sidang, salah satu Anggota Dewan menilai Belitong layak jadi percontohan global bagi geopark lain penerima Yellow Card.
Ijen UGGp di Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso menjalani revalidasi pertama setelah ditetapkan 24 Mei 2023. Kawasan dengan 21 geosite ini punya kawah aktif berdanau asam terbesar di dunia plus fenomena blue fire—dua atraksi yang jadi alasan utama wisatawan mendaki malam hari.
Merangin Jambi UGGp mempertahankan Green Card. Wilayah seluas 4.832,31 kilometer persegi di Kabupaten Merangin ini menyimpan bentang alam batuan kapur berumur kuno dan Kaldera Masurai berumur 33.000 tahun. Catatan sidang menyoroti tambang emas ilegal di sekitar sungai tempat fosil Muara Karing berada.
Badan Pengelola bersama Pemkab Merangin dan Pemprov Jambi mengupayakan penutupan tambang secara hati-hati karena bersinggungan langsung dengan masyarakat.
Raja Ampat UGGp menjalani revalidasi 18–22 Agustus 2026 dan menuntaskan seluruh enam rekomendasi periode sebelumnya. Tindak lanjutnya mencakup identifikasi empat geosite baru di Pulau Misool pada 2024, pembangunan Geological Information Center di Waisai, pusat informasi di Pulau Yefman, serta peningkatan pelibatan masyarakat adat.
Seluruh Anggota Dewan yang hadir bulat menyetujui Green Card bagi Raja Ampat. Isu pertambangan di wilayah perbatasan dinilai sudah ditangani lewat komitmen pemerintah melarang aktivitas tambang di dalam kawasan geopark.
Maros-Pangkep UGGp menjalani misi revalidasi 27–31 Juli 2026 oleh dua evaluator UNESCO. Kawasan seluas 5.254,10 kilometer persegi yang meliputi daratan dan perairan ini punya bentang alam karst kelas dunia, lebih dari 720 gua, warisan seni cadas prasejarah, kawasan konservasi laut, dan keanekaragaman hayati tinggi.
Bojonegoro dinyatakan lolos sebagai UNESCO Global Geopark baru dalam sidang yang sama. Sementara Geopark Ranah Minang Silokek, yang juga diusulkan, diberi kesempatan dua tahun untuk melengkapi rekomendasi UNESCO Global Geopark.
Durasi ideal menjelajah satu geopark berkisar dua sampai tiga hari, cukup untuk mendatangi dua-tiga geosite utama tanpa terburu-buru. Status Green Card tidak mengubah prosedur kunjungan, tetapi memastikan kawasan dikelola dengan standar konservasi yang diawasi UNESCO.