KUPANG — Ibadat pemakaman yang dipimpin Pendeta GMIT Efata Bello berlangsung khidmat, memadukan penghormatan adat dan doa bagi almarhum. Corinus Tuan dikenal luas atas pengabdiannya sebagai mantan Kepala Desa dan Lurah Bello, serta mantan Camat Maulafa.
Pemimpin kelompok Natoni sekaligus penutur adat, Lukius Takene, menjelaskan bahwa tutur adat dalam prosesi pemakaman menjadi bentuk penghormatan kepada almarhum atas jasa dan pengabdiannya. Natoni tidak sekadar rangkaian seremoni adat, tetapi juga ungkapan penghormatan masyarakat terhadap perjalanan hidup, jasa, dan nilai-nilai yang diwariskan seorang tokoh kepada generasi berikutnya.
Prosesi Natoni mengawali dan mengakhiri pemakaman Corinus Tuan. Tradisi tutur adat masyarakat Timor itu dibawakan sebagai penanda duka sekaligus penghargaan atas kiprah almarhum di tengah masyarakat Bello.
Kepergian Corinus Tuan tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga menjadi kehilangan bagi masyarakat Bello dan Kota Kupang. Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai figur pemimpin, sesepuh, sekaligus tokoh pembaruan yang memiliki kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua Forum Pembaruan Kota Kupang, Umbu Saga Anakaka, menyebut Corinus Tuan sebagai sosok pembaruan yang memberikan teladan bagi masyarakat Kota Kupang, terutama warga Bello.
"Beliau menjadi panutan bagi kita semua. Kepergian almarhum menjadi peristiwa yang mengingatkan kita akan jasa dan pengabdiannya. Semoga keluarga yang ditinggalkan, terutama istri dan anak-anak, diberikan kekuatan dan penghiburan, serta almarhum mendapat tempat yang layak sesuai amal baktinya," ujar Umbu.
Mewakili keluarga, Maksi Buifena menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan pendampingan sejak awal masa dukacita hingga pelaksanaan pemakaman. Ucapan terima kasih ditujukan kepada pihak gereja, khususnya Ketua Majelis GMIT Efata Bello, keluarga besar, Pemerintah Kota Kupang melalui Camat Maulafa dan Lurah Bello, serta berbagai komunitas yang terlibat.
"Kami menyampaikan terima kasih yang tak terhingga atas seluruh perhatian, dukungan, dan kebaikan yang diberikan kepada keluarga. Semoga Tuhan membalas semua budi baik yang telah diberikan," ungkap Maksi.
Corinus Tuan, S.H. lahir di Petuk pada 5 Juli 1959. Ia merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara pasangan Gasper Tuan dan Maria Takene. Almarhum menikah dengan Marice Dortia Loit pada 16 Desember 1988 dan dikaruniai lima orang anak.
Kepergian Corinus Tuan menutup perjalanan panjang pengabdiannya sebagai aparatur pemerintahan dan tokoh masyarakat. Jasa, keteladanan, serta nilai-nilai adat yang diwariskannya diharapkan tetap hidup dalam ingatan dan kehidupan masyarakat Bello.