Fenomena Double Drop Semakin Umum, Burnley Terancam Jadi Korban Ketiga

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:35:31 WIB
Burnley terpuruk di zona degradasi Championship dan berpotensi mengalami degradasi beruntun hingga League One.

NUSA TENGGARA TIMUR — Burnley terpuruk di zona degradasi Championship dan berpotensi menyusul Luton Town serta Leicester City sebagai tim yang mengalami degradasi beruntun dari Premier League hingga League One. Fenomena double drop yang dulu nyaris mustahil kini terjadi dua musim berturut-turut, dan Clarets menjadi kandidat kuat berikutnya.

Kekalahan 4-1 dari Lincoln City di laga terakhir menjadi pukulan telak bagi Burnley. Pelatih Nicky Hayen tak mampu bertahan, dan manajemen bergerak cepat menunjuk Diego Lopez sebagai chief football officer baru serta Fabio Celestini sebagai pelatih anyar.

Bagi 1.450 suporter Burnley yang nekat bertandang ke Lincoln akhir pekan lalu, ancaman degradasi beruntun bukan sekadar statistik. Lincoln sendiri baru sepuluh tahun lalu masih bermain di kompetisi non-liga, kini mereka mempermalukan tim yang musim lalu masih berlaga di Premier League.

Dari Swindon Hingga Leicester: Jejak Double Drop di Inggris

Lima belas tahun lalu, gagasan bahwa klub Premier League bisa terdegradasi dua musim beruntun dianggap absurd. Dalam 20 musim pertama Premier League, itu hanya terjadi sekali, itupun karena Swindon Town terkena restrukturisasi divisi pada 1994-95 yang memangkas jumlah tim di kasta teratas.

Wolves pada 2011-12 tercatat sebagai tim pertama yang benar-benar mengalami double drop. Sejak itu, fenomena serupa terjadi empat kali dalam 14 musim terakhir. Sunderland menyusul pada 2016-18, lalu Luton Town dan Leicester City dalam dua musim beruntun.

Wolves bahkan pernah mengalami treble drop hingga kasta keempat pada era 1980-an. Sunderland menjadi satu-satunya klub yang finis paling bawah di dua divisi sekaligus, hanya menang 13 dari 84 laga liga.

Leicester Terdegradasi karena Sanksi, Luton karena Selisih Gol

Leicester menjadi contoh bagaimana keputusan di ruang direksi berdampak langsung ke lapangan. Pengurangan enam poin akibat pelanggaran aturan profit dan sustainability membuat The Foxes finis ke-23 Championship, terpaut lima poin dari zona aman.

Luton mengalami nasib lebih pahit. Degradasi mereka pada 2024-25 terjadi karena kalah selisih gol dari Hull City, yang kemudian promosi ke Premier League musim berikutnya. Kini Luton masih berjuang, sementara Leicester terpuruk di peringkat 13 League One dan sedang dijual.

Mantan gelandang Watford dan Reading, Jobi McAnuff, menilai akar masalahnya bukan tren tak terhindarkan. "Untuk kedua klub itu, menurut saya, ini soal manajemen skuad yang buruk," ujarnya kepada BBC Sport.

"Dari sisi Luton, ada beberapa pemain yang mungkin merasa berhak tetap di Premier League. Mereka tidak menyesuaikan diri kembali ke Championship, padahal sebagian besar pemain mereka sebelumnya bermain di sana," tambah McAnuff.

Beban Utang Burnley dan Rekor Tanpa Kemenangan Kandang

Burnley memiliki kemiripan dengan Wolves dan Sunderland saat mengalami double drop: kekacauan di dalam dan luar lapangan. Setelah diakuisisi Alan Pace melalui ALK Capital pada 2020, klub menanggung utang 142 juta poundsterling pada laporan keuangan 2024-25, tertinggi di Championship.

Pekan ini Burnley juga mencatat rekor baru sepak bola Inggris sebagai tim dengan rentetan laga kandang tanpa kemenangan terpanjang. Reputasi sebagai klub yo-yo yang naik-turun antara Premier League dan Championship kini berubah menjadi ancaman nyata menuju League One.

Championship musim ini semakin kompetitif dengan munculnya klub seperti Lincoln yang dikelola rapi. Pertanyaannya kini: apakah Burnley akan menjadi korban ketiga dalam tiga tahun, atau mampu menghentikan laju double drop yang mulai menjadi pola?

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: bbc.co.uk This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top