KUPANG — Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi NTT, Alvons Theodorus, menegaskan bahwa POPDA bukan sekadar turnamen pelajar. Ajang itu disebutnya sebagai kawah candradimuka untuk melahirkan calon atlet nasional yang tangguh. Pernyataan itu disampaikan di tengah rangkaian POPDA VIII NTT 2026 yang berlangsung di Kota Kupang.
Pembinaan atlet usia dini menjadi titik berat pertemuan antara Pemkot Kupang dan Pemprov NTT. Kedua pemerintahan menilai persiapan menuju PON 2028 tidak cukup hanya dengan menyiapkan arena pertandingan.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, yang hadir mewakili Gubernur NTT, menempatkan kompetisi pelajar sebagai alat ukur hasil latihan. Menurutnya, pengalaman bertanding sejak dini ikut membentuk karakter generasi muda.
"Kompetisi olahraga pelajar memiliki peran strategis dalam mengukur hasil latihan, menambah pengalaman bertanding, serta membentuk karakter generasi muda. Persiapan menuju PON 2028 tidak hanya membutuhkan sarana dan prasarana, tetapi juga kualitas pembinaan, kesiapan SDM, serta dukungan penuh dari seluruh masyarakat," tegas Ambrosius Kodo dalam sambutannya.
Pernyataan itu memperjelas arah kebijakan daerah: kualitas pembinaan dan kesiapan sumber daya manusia ditempatkan sejajar dengan pembangunan fasilitas olahraga. Bagi NTT, yang akan menjadi tuan rumah bersama NTB, kesiapan itu menjadi taruhan reputasi daerah.
Gala dinner di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang mempertemukan jajaran pimpinan daerah dari tingkat provinsi dan kota. Mereka duduk berdampingan bersama para pengurus KONI, dinas pendidikan, serta dinas pemuda dan olahraga. Rangkaian acara diisi santap malam bersama, pencerahan dari pimpinan daerah, dan diskusi interaktif.
Format pertemuan yang cair itu dinilai mencerminkan komitmen kolaborasi antar-instansi. Pembinaan atlet pelajar memang melibatkan dua dinas sekaligus: Dispora pada urusan pembinaan prestasi, dan Dinas Pendidikan pada basis sekolah tempat bibit atlet ditemukan.
Kehadiran kontingen dari berbagai penjuru wilayah Flobamora turut menggeliatkan perputaran ekonomi lokal Kota Kupang. Sektor kuliner, UMKM, dan perhotelan merasakan dampak langsung dari rombongan peserta yang datang ke kota.
Bagi pelaku usaha kecil, gelaran olahraga pelajar semacam ini berfungsi sebagai pasar musiman yang datang berkala. Efeknya terasa pada warung makan, penyedia jasa penginapan, hingga pedagang oleh-oleh di sekitar arena pertandingan.
Pemprov NTT dan Pemkot Kupang menyatakan optimistis para atlet muda Flobamora mampu mengukir prestasi di panggung nasional maupun internasional. Keyakinan itu dibangun lewat kebersamaan yang terjalin dalam POPDA VIII.
Namun jalan menuju PON 2028 masih menyisakan pekerjaan rumah: memastikan atlet hasil penyaringan POPDA mendapat pelatih berlisensi, jadwal latihan berkelanjutan, dan fasilitas yang layak. Tanpa itu, prestasi di level pelajar sulit diterjemahkan menjadi medali di arena PON.