MAUMERE — Sembilan permainan rakyat disiapkan panitia di Pusat Jajanan dan Cendera Mata Maumere, mulai dari tali merdeka, congklak, egrang bambu, egrang batok kelapa, laba limang, gasing, gala asin, engklek, hingga tumbu blanga. Anak-anak tampak berpindah dari satu permainan ke permainan lain selama sekitar dua jam.
Kegiatan ini menyasar siswa dari 12 sekolah se-Kabupaten Sikka. Sebagian guru pembina ikut bergabung, mengenang masa sekolah mereka saat permainan serupa masih rutin dimainkan di halaman sekolah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Pemanfaatan dan Pembinaan Kebudayaan Kemenbud RI, Judi Wahyudin, menyebut permainan rakyat dan olahraga tradisional masuk dua dari 10 objek pemajuan kebudayaan sesuai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Di Nusa Tenggara Timur, kata Judi, telah terdata 162 permainan rakyat yang bisa dioptimalkan dalam berbagai kegiatan di sekolah. Permainan rakyat bukan sekadar gerak, melainkan mengandung peran olah rasa dan olah pikir yang mendukung perkembangan anak.
"Harapan kami dengan sajian laba limang dan jenis lainnya, mudah-mudahan adik-adik bisa semangat lagi, saling menguatkan kembali, kita sama-sama perkuat dan bekerja sama melalui permainan tradisional," ujar Judi.
Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago menilai aktivitas bermain anak saat ini didominasi gawai. Padahal sebelum gawai marak, generasi sebelumnya menghabiskan banyak waktu dengan permainan rakyat.
Menurut Juventus, menghadirkan kembali permainan rakyat menjadi salah satu cara meminimalisasi penggunaan gawai berlebihan. Ia berharap anak-anak bisa bermain dengan riang dan gembira.
"Olahraga ini lebih sehat, kuat, latih kelincahan, kecerdasan, kepintaran. Ini sangat bermanfaat," kata Juventus.
Bupati juga menyampaikan terima kasih atas dukungan pemangku kepentingan dari daerah hingga pusat yang tidak meninggalkan masyarakat Sikka sendirian dalam situasi pascagempa. Ia mengapresiasi kerja KPOTI dan sinergi pemerintah pusat-daerah dalam menghadirkan kegiatan bermain bersama anak-anak.
Sebelum kegiatan dimulai, bupati menyerahkan secara simbolis satu tas berisi kotak pensil dan botol minum kepada seorang siswi dari Pulau Palue yang mewakili sekolahnya. Pulau Palue merupakan pulau terluar di Kabupaten Sikka yang sangat terdampak gempa bumi 15 Agustus 2026.
Para siswa Pulau Palue tidak bisa hadir langsung di Maumere karena keterbatasan akses transportasi dan jarak. Bantuan tas rencananya disalurkan tim KPOTI NTT langsung ke Pulau Palue beberapa hari setelah kegiatan.
Yohana Ani Koten, siswi Kelas IX SMP Bina Wirawan, mengaku senang bisa memainkan permainan yang jarang dijumpainya lagi. Ia tampak asyik bermain engklek dan egrang bersama teman-temannya.
"Senang sekali karena kami bisa bermain permainan yang ditinggalkan dan menjalin keakraban dengan sesama teman yang lain," kata Yohana.
Bernadetha Nona Ida, guru yang membawa 20 siswa kelas V dan VI SDI Misir, bersyukur murid-muridnya terlibat dalam kegiatan trauma healing ini. Menurut dia, anak-anak bisa beralih dari ponsel.
"Mereka senang sekali. Mungkin kami ke depan di sekolah bisa buat permainan tradisional lagi, masukkan ke ekstrakurikuler," ucap Bernadetha.