Pertamina Tahan Harga BBM Nonsubsidi Oktober 2026, Pertamax Tetap Rp15.950

Penulis: Bramantyo Wicaksono  •  Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:05:01 WIB
Pertamina menahan harga BBM nonsubsidi sepanjang Oktober 2026 dengan Pertamax tetap Rp15.950 per liter.

NUSA TENGGARA TIMUR — PT Pertamina (Persero) tidak mengubah harga BBM nonsubsidi sepanjang Oktober 2026, dengan Pertamax tetap dijual Rp15.950 per liter di wilayah PBBKB 5 persen seperti DKI Jakarta. Kebijakan ini berlaku sejak Rabu, 2 September 2026 dan mencakup Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, hingga Pertamina Dex. Penahanan harga memberi kepastian biaya energi bagi konsumen di tengah fluktuasi harga minyak dunia.

Paragraf pembuka: Keputusan menahan harga disampaikan VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora dengan alasan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Pertamina Patra Niaga merupakan anak usaha yang menangani distribusi dan pemasaran produk BBM Pertamina di SPBU seluruh Indonesia.

Rincian Harga per Jenis BBM

Untuk wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen, Pertamax dibanderol Rp15.950 per liter. Pertamax Green 95 dijual Rp19.150 per liter, sementara Pertamax Turbo dipatok Rp19.600 per liter.

Dua produk diesel nonsubsidi, Dexlite dan Pertamina Dex, juga masuk dalam daftar harga yang tidak berubah. Angka tersebut mengacu pada laman resmi Pertamina dan berlaku di SPBU seluruh Indonesia.

Harga BBM nonsubsidi memang tidak diatur pemerintah seperti halnya Pertalite dan Solar bersubsidi. Pertamina memiliki ruang menyesuaikan harga berdasarkan pergerakan minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan daya beli masyarakat.

Alasan Pertamina Menahan Harga

Kitty menyatakan penyesuaian harga nonsubsidi mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan resmi pada Kamis (1/10/2026).

"Adapun untuk BBM nonsubsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya," kata Kitty.

Pendekatan hati-hati ini lazim ditempuh Pertamina menjelang akhir tahun, ketika konsumsi BBM rumah tangga dan sektor logistik biasanya meningkat. Menahan harga membantu menjaga inflasi energi tetap terkendali.

Dampak ke Konsumen dan Pelaku Usaha

Bagi pemilik kendaraan pribadi, harga Pertamax yang stabil berarti biaya operasional harian tidak berubah dibanding bulan lalu. Pengguna mobil mewah dan kendaraan berperforma tinggi juga masih bisa mengakses Pertamax Turbo di level Rp19.600 per liter.

Pelaku usaha yang bergantung pada armada diesel, seperti jasa ekspedisi dan angkutan barang, ikut merasakan manfaatnya. Biaya bahan bakar menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur pengeluaran mereka.

Kepastian harga juga memudahkan perencanaan anggaran bagi perusahaan yang punya kontrak pengiriman jangka panjang. Fluktuasi harga BBM nonsubsidi biasanya langsung memukul margin operator logistik.

Posisi di Tengah Kebijakan Energi Nasional

Harga Pertalite dan Solar bersubsidi tetap ditentukan pemerintah melalui Kementerian ESDM, terpisah dari kebijakan nonsubsidi. Pertamina menyalurkan kedua jenis BBM itu dengan skema penugasan dan kompensasi dari negara.

Dengan harga nonsubsidi yang ditahan, selisih antara BBM bersubsidi dan nonsubsidi tidak melebar. Ini penting agar konsumen tidak berbondong-bondong beralih ke Pertalite yang kuotanya sudah dibatasi.

Pertamina belum memberi sinyal kapan penyesuaian harga berikutnya akan dilakukan. Perusahaan menyatakan akan terus memantau pergerakan harga minyak mentah dan kondisi ekonomi sebelum mengambil keputusan.

Penutup: Stabilitas harga nonsubsidi sepanjang Oktober memberi ruang bagi rumah tangga dan dunia usaha untuk mengatur belanja energi tanpa kejutan. Bagi Pertamina, langkah ini menjaga volume penjualan sekaligus menyeimbangkan tekanan margin di tengah harga minyak global yang belum sepenuhnya stabil.

Reporter: Bramantyo Wicaksono
Sumber: inews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top