Pakar: Suroso Isnandar Pimpin PLN, Jaringan Listrik Harus Diperkuat

Penulis: Aditya Nugraha  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 15:07:01 WIB
Kepemimpinan baru PT PLN dinilai menjadi momentum penguatan jaringan transmisi dan distribusi listrik nasional.

NUSA TENGGARA TIMUR — Kepemimpinan baru PT PLN (Persero) di bawah Suroso Isnandar dinilai jadi momentum memperkuat jaringan transmisi dan distribusi listrik nasional. Tanpa kesiapan infrastruktur dan penyimpanan energi, penambahan kapasitas pembangkit energi terbarukan berisiko tidak terserap optimal.

Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Feiral Rizky Batubara, menyebut pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar membuka ruang memperkuat fondasi kemandirian energi. Menurut dia, tantangan pimpinan baru tidak berhenti pada menambah kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan sistem kelistrikan sanggup menopang kebutuhan pembangunan nasional.

Sektor ketenagalistrikan menempati posisi strategis karena keandalan pasokan listrik menentukan keberhasilan agenda industrialisasi hingga hilirisasi. Feiral menilai pengalaman Suroso di bidang sistem tenaga, manajemen proyek, dan energi terbarukan bisa menjadi modal menghadapi tantangan tersebut.

Jaringan Jadi Penentu, Bukan Cuma Pembangkit

Feiral mengingatkan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembangkit, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Produksi listrik PLTS bergantung pada intensitas matahari sehingga pasokannya berubah sepanjang hari.

Kondisi itu menuntut sistem kelistrikan yang fleksibel untuk menyeimbangkan pasokan dengan kebutuhan listrik. Tanpa itu, energi bersih yang sudah diproduksi berisiko tidak tersalurkan ke pelanggan.

"Pengembangan PLTS harus berjalan seiring dengan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), serta peningkatan fleksibilitas sistem. PLN harus mampu menyeimbangkan pasokan dan permintaan listrik setiap saat," ujar Feiral.

Risiko Curtailment Mengintai

Kesiapan infrastruktur juga diperlukan untuk menekan risiko curtailment, yakni pembatasan produksi listrik dari pembangkit ketika sistem tidak mampu menyerap seluruh energi yang tersedia. Dalam kondisi itu, pembangkit terpaksa dipangkas meski kapasitasnya ada.

Feiral menilai PLN perlu mengintegrasikan perencanaan pembangkit dengan pembangunan jaringan transmisi, distribusi, dan penyimpanan energi. Integrasi ini agar penambahan kapasitas EBT berjalan seiring kemampuan sistem menyalurkan dan mengelola pasokan listrik.

Ia juga mengapresiasi kontribusi Darmawan Prasodjo selama memimpin PLN. Menurut Feiral, pengalaman Suroso perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah operasional yang memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat transformasi energi nasional.

Harapan ke Depan

Feiral berharap kepemimpinan Suroso Isnandar menghasilkan sistem kelistrikan yang tangguh, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan energi. Dengan dukungan infrastruktur memadai, pengembangan energi terbarukan diyakini tidak hanya mempercepat transisi energi, tetapi juga memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Bagi pelanggan PLN, keandalan jaringan berarti pasokan listrik yang lebih stabil di tengah masuknya pembangkit berbasis energi terbarukan. Bagi investor, integrasi perencanaan pembangkit dan jaringan menjadi sinyal bahwa proyek EBT punya jalur penyaluran yang jelas, bukan sekadar target kapasitas di atas kertas.

Reporter: Aditya Nugraha
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top