Neraca Dagang Agustus 2026 Surplus US$3,55 Miliar, Nonmigas Jadi Penopang

Penulis: Endra Sanjaya  •  Kamis, 01 Oktober 2026 | 13:04:01 WIB
BPS mencatat neraca perdagangan Agustus 2026 surplus US$3,55 miliar.

NUSA TENGGARA TIMUR — Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus US$3,55 miliar pada Agustus 2026, ditopang kinerja ekspor nonmigas yang menyumbang surplus US$6,09 miliar. Badan Pusat Statistik mencatat ekspor bulan lalu mencapai US$26,61 miliar, sedikit lebih tinggi dibandingkan impor US$23,05 miliar.

Surplus neraca perdagangan Agustus 2026 ditopang ekspor nonmigas yang tumbuh 7,23 persen secara tahunan (yoy) dari US$23,89 miliar menjadi US$25,62 miliar. Sementara itu, ekspor migas justru anjlok 5,10 persen yoy dari US$1,05 miliar menjadi US$990 juta.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyampaikan bahwa kinerja nonmigas menjadi motor utama surplus bulan lalu.

"Adapun untuk komoditas penyumbang surplus pada nonmigas, ini terutama dari lemak dan minyak hewani atau nabati, kemudian dari bahan bakar mineral, dan juga dari besi dan baja," ujar Ateng dalam konferensi pers, Kamis (1/10).

Industri Pengolahan Pimpin Pertumbuhan Ekspor Nonmigas

Dari sisi sektoral, ekspor industri pengolahan tercatat US$22,29 miliar atau naik 12,48 persen dibandingkan Agustus 2025 yang sebesar US$19,82 miliar. Kenaikan ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekspor nonmigas secara keseluruhan.

Di sisi lain, sektor pertambangan dan lainnya justru turun 19,47 persen yoy dari US$3,47 miliar menjadi US$2,79 miliar. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga melemah 11,64 persen dari US$600 juta menjadi US$530 juta.

Secara total, ekspor Indonesia sepanjang Agustus 2026 tercatat US$26,61 miliar, naik 6,72 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$24,94 miliar.

Impor Melonjak 19 Persen, Bahan Baku Jadi Pendorong

Dari sisi impor, BPS mencatat kenaikan signifikan sebesar 19,09 persen yoy menjadi US$23,06 miliar. Impor migas melesat 30,73 persen yoy menjadi US$3,53 miliar, sedangkan nonmigas naik 17,20 persen yoy menjadi US$19,53 miliar.

Berdasarkan kelompok penggunaan barang, impor bahan baku/penolong mencatat nilai terbesar, yakni US$16,67 miliar atau naik 22,48 persen yoy. Kenaikan ini mengindikasikan aktivitas industri manufaktur yang tetap berjalan.

Impor barang modal tercatat US$4,28 miliar atau naik 10,63 persen yoy, sementara impor barang konsumsi sebesar US$2,10 miliar atau naik 11,93 persen yoy.

Defisit Migas Berlanjut, Tekanan dari Minyak Mentah

Komoditas migas masih mencatat defisit US$2,54 miliar pada Agustus 2026. Defisit ini terutama disumbang oleh hasil minyak dan minyak mentah, yang menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi belum berkurang.

Defisit migas tersebut nyaris menutupi seluruh surplus nonmigas yang mencapai US$6,09 miliar. Tanpa perbaikan struktural di sektor energi, pola ini diperkirakan berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Apa Artinya bagi Pasar dan Pelaku Usaha

Surplus neraca perdagangan yang berlanjut menjadi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Aliran devisa dari ekspor membantu menjaga cadangan devisa dan mengurangi tekanan terhadap mata uang domestik.

Bagi pelaku usaha di sektor pengolahan dan komoditas seperti minyak nabati, batu bara, serta besi dan baja, tren ini mengonfirmasi permintaan global yang masih solid. Namun, pelemahan di sektor pertambangan dan pertanian perlu dicermati sebagai risiko ke depan.

Kenaikan impor bahan baku dan barang modal juga bisa dibaca sebagai sinyal bahwa dunia usaha masih melakukan ekspansi. Jika tren ini berlanjut, surplus dagang berpotensi bertahan meski dengan margin yang bergantung pada harga komoditas global.

Reporter: Endra Sanjaya
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top